Thursday, 12 December 2013

Dosa dan Pengampunan dalam Dialog Doa Bapa Kami dan Fatiḫa

            I. PENDAHULUAN
Setiap agama pasti memiliki konsep dosa dan pengampunan, begitu juga dengan kedua agama besar di Indonesia; Islam dan Kristen. Konsep dosa dan pengampunan merupakan bagian yang tak dapat dilepaskan dari kehidupan setiap umat beragama. Dosa adalah sebuah tindakan yang dilakukan sengaja atau tidak sengaja dan dianggap salah serta tidak sesuai dengan ajaran dan hukum sebuah agama, sedangkan pengampunan/taubat berarti kembali kepadaNya. Kedua kata ini saling terkait. Ketika seseorang berbuat dosa, maka dengan taubat ia mendapatkan pengampunan dari Allahnya. Dalam tugas akhir ini saya akan mencoba membahas kedua konsep ini (dosa dan pengampunan) dengan mendialogkan doa Bapa Kami dan Fatiḫa sebagai dasarnya.

      II. DOSA DAN PENGAMPUNAN ALLAH DI DALAM ISLAM DAN KRISTEN[1]
Fatiḫa dipanjatkan oleh penganutnya dengan tujuan untuk merayakan rasa syukur kepada sang Pencipta sebagai Allah yang pemurah. Begitu juga dengan doa Bapa Kami yang dipanjatkan oleh penganutnya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah sebagai Bapa yang mengasihi dan mengampuni. Ajaran Islam memberikan tiga cara memahami pengampunan Allah. Semuanya didasarkan pada pengajaran Qur’an dan Hadith, tetapi pada aspek-aspek yang berbeda tentangnya. Begitu juga halnya dengan apa yang dipahami oleh orang Kristen tentang pengampunan  Allah, diantaranya yakni kemahakuasaan Ilahi, keadilan dan anugrah. Dimana ketiga hal ini relevan bagi pengampunan Ilahi dalam pengertian Islam maupun Kristen.
Islam
Pemahaman I (menurut ahli teologi Murji’i[2]): Allah adalah Maha Kuasa; Ia pada akhirnya akan mengampuni semua orang Muslim. Dalam pemahaman ini dipahami bahwa atribut tertinggi Allah adalah kemahakuasaanNya. Allah itu maha kuasa, pemurah serta adil. Ia berdiri sendiri dan tidak tergantung oleh siapa dan apa pun itu. Ia punya hak untuk melakukan apa yang Ia sukai dan tak seorang pun yang dapat melawan kehendak serta keputusanNya. Karena Ia adalah Tuhan yang Maha Kuasa, maka manusia sebagai makhluk ciptaanNya harus tunduk di bawah kuasaNya. Segala apa yang dilakukan oleh manusia baik atau buruk ditentukan oleh kemahakuasaanNya. Untuk itu, Ia punya hak untuk mengampuni dan menghukum siapa pun yang Ia kehendaki.

Keesaan Allah merupakan salah satu dari doktrin inti ajaran Islam. Untuk itu dosa karena shrik (menyembah allah lain selain Allah) tidak dapat diampuni dan akan dihukum masuk ke dalam neraka. Namun ada pengecualian ketika mereka mau bertobat dan masuk Islam. Pada bagian ini sering terjadi kesalapahaman antara Islam dan Kristen. Islam memahami konsep Trinitas dalam ajaran Kristen sebagai tritheisme (percaya kepada 3 allah), yang sebenarnya tidak seperti itu. Dalam ajaran Kristen konsep Trinitas,  Allah tetap satu (Esa) namun dengan 3 pribadi (Bapa, Anak, dan Roh Kudus).

Kita kembali lagi pada pemahaman Islam bahwa Allah itu Esa dan berkuasa. Dari pemahaman ini orang-orang muslim percaya bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka apabila mereka bertobat, tetapi jikalau tidak, tak ada satu pun yang bisa menghalangi kehendak Allah atas hal tersebut pada hari penghakimanNya. Berikutnya, Allah itu pemurah. Islam mengajarkan bahwa anugrah Allah jauh lebih besar dari pada murkaNya. Anugrah Allah digambarkan bahwa Allah tidak akan menghukum orang-orang Muslim yang tidak taat dengan hukuman kekal. Setelah membayar dosa-dosanya, mereka akan keluar dari neraka dan akan pergi ke surge dimana mereka akan menikmati kebahagiaan kekal bersama-sama dengan saudara-saudara Muslim yang lain. Hal ini juga sangat jelas di singgung dalam doa syafaat Nabi Muhammad yang memohon pengampunan bagi orang-orang Muslim yang tidak taat dan tidak menyesali dosa-dosa mereka kepada Allah.[3]

Pemahaman II (menurut ahli teologi Mu’tazili[4]): Allah adalah adil; Ia akan mengampuni orang-orang Muslim yang taat saja. Pada bagian ini dipahami bahwa atribut Allah adalah keadilan, selanjutnya barulah anugrah dan kemahakuasaanNya. Dikatakan bahwa pada hari penghakiman nanti Allah akan menghakimi setiap orang menurut keadilanNya yang sempurna, dan orang-orang Muslim tidak akan diistimewakan karena iman mereka, mereka akan diperlakukan sama seperti orang-orang non-Muslim. Mereka akan dibenarkan apabila mereka melakukan apa yang benar di mata Allah, dan salah bila mereka melakukan apa yang tidak berkenan bagi Allah. Dalam hal ini para pakar teologi Mu’tazili menjelaskan berbedaan antar dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil. Hadith menunjukkan dosa-dosa besar seperti politheisme, ilmu sihir, membunuh, merampas kekayaan milik anak yatim, mengambil bungan atau riba, desersi dari tugas-tugas keagamaan, dan secara salam menuduh perempuan Muslim yang sudah bersuami melakukan tindakan amoral seksual. Tradisi lain juga memandang dosa besar seperti pemberontakan kepada orang tua, kesaksian palsu, menyerang orang-orang yang sedang dalam perjalanan ke Makkah, minum anggur, menyia-nyiakan anugrah Allah atau mengabaikan pengadilan Allah. Berbeda dengan dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil dapat ditebus dengan perbuatan-perbuatan baik, karena perbuatan yang baik dapat menghapuskan perbuatan yang jahat. Namun hal ini bukan berarti seseorang dapat dengan sengaja atau seenaknya melakukan dosa-dosa kecil ataupun besar, sebab pada akhirnya pengampunan atas dosa-dosa kembali lagi pada otoritas Allah. Di sini konsep tentang hukuman sementara dan doa Nabi yang telah dijelaskan diatas, ditolak dengan alasan bahwa Allah akan menyangkal keadilanNya jikalau Ia mengampuni dosa besar yang emmang layak unuk dihukum. 

Pemahaman III (Sufisme)[5]: Allah adalah pemurah; Ia akan mengampuni semua orang. Pada bagian ini atribut Allah yang penting adalah murah hati. Dikatakan bahwa  dalam hal ini Allah digambarkan sebagai “yang paling murah hati dari segala yang bermurah hati” dan “terbaik dari dari segala yang murah hati”. Kemurahan hati Allah bersifat inklusif, yang dinyatakan dalam pengampunannya tanpa batas terhadap orang-orang berdosa. Di sini dijelaskan bahwa tak satu dosa pun yang tidak terjangkau oleh pengampunan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa pengampunan Allah itu tanpa syarat dan tidak tergantung pada pertobatan manusia.
Kristen
Anugrah Allah ditunjukkan dalam kasihNya kepada umatNya. Sama seperti pemahaman Islam (Sufisme) tentang kemurahan hati Allah yang tak bersyarat dan universal, begitu juga konsep tentang kasih Allah dalam ajaran Kristen. Namun berbeda dengan pemahaman tentang nabi sebagai mediator kasih Allah. Dalam Kristen Yesus-lah yang menjadi wujud nyata kasih Allah ke dunia; “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNyatidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16). Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus adalah mediator antara Allah dan manusia, sebab Dialah Anak Allah yang kekal yang telah menjadi manusia untuk menyelamatkan kita dari hukuman kekal lewat kematiaanNya di kayu salib. Sebab manusia adalah makhluk yang sudah tercemar oleh dosa sejak lahirnya. Untuk itulah lewat karya penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus yang mati dan bangkit, manusia dapat ditebus dari dosanya.

Sebagaimana kasih Allah yang tidak terbatas, begitu pula dengan keadilanNya. Dalam ajaran Kristen konsep tentang dosa kecil dan besar tidak ada. Dosa ya tetap dosa, dan untuk itu tetap ada hukumannya. Kita tidak dapat memisahkan antara apa yang kita lakukan dengan siapa kita ini; perbuatan kita mencermikan hakekat keberadaan kita; kita berdosa dan juga sekaligus pendosa. Dan untuk itu, hukuman dosa adalah maut, baik secara fisik maupun secara spiritual (Rm 6:23). Dari perspektif Alkitabiah, pengampunan dosa hanyalah merupakan salah satu aspek dari penyelamatan. Penyelamatan yang datang dari Allah lewat Yesus Kristus; mediator yang memperbaiki hubungan Allah dan umatNya yang telah rusak oleh karena dosa manusia itu sendiri. 

Yang terakhir adalah kemahakuasaan Allah. Sang pencipta dan Tuhan atas alam semesta. Dalam ajaran Kristen, kemahakuasaan Allah telah dinyatakan dalam kebangkitan Yesus Kristus dari maut. Pada bagian akhir doa Bapa Kami hal ini juga ditekankan “…dan Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.” Di sini kita bisa melihat dan merenungkan kemahakuasaan Allah yang tercermin dalam diri Yesus Kristus yang menyelamatkan manusia dari dosa. Maka untuk itu, kita patut mengucap syukur atas anugrah yang boleh kita terima.
                                                                                              
III. TANGGAPAN – TANGGAPAN  LAIN DARI AGAMA ISLAM DAN KRISTEN
Berdasarkan hasil diskusi saya dengan beberapa teman mahasiswa teologi dari Universitas Sunan Kalijaga, mereka banyak memberi tanggapan dan masukan yang menjelaskan tentang bagaimana konsep dosa dan pengampunan yang dipahami dalam Islam. Apa yang mereka jelaskan mengenai konsep dosa dalam Islam kurang lebih memiliki dasar yang sama dengan apa yang dipahami dalam Kristen; bahwa dosa adalah tindakan yang dilakukan manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.[6] Yang menarik bagi saya adalah: (1).konsep tentang dosa seseorang yang telah meninggal dapat diampuni oleh karena doa-doa saudara dan sahabat-sahabatnya selama masih hidup, serta (2).konsep tentang neraka yang dihuni oleh orang berdosa selama menjalani masa hukumannya (kemudian setelah membayar dosanya di neraka ia dapat ikut masuk ke surga). Konsep ini sama seperti apa yang dipahami oleh orang-orang Kristen Katolik tentang api penyucian. Dalam ajaran gereja yang saat ini dipegang oleh Gereja Katolik Roma, dikenal apa yang disebut dengan purgatori yakni tempat antara dimana orang mati berada sebelum masuk surga. Disitu, orang yang mati menjalani penyucian. Maka, purgatori juga disebut dengan api penyucian. Sebenarnya ajaran ini hendak mengatakan bahwa untuk masuk ke surga yang suci, orang harus disucikan dulu. Penyucian bisa terjadi lewat pertobatan. Bila orang masih hidup, orang itu tentu bisa menerima penyucian lewat pertobatan yang dilayankan oleh gereja, tetapi bila ia sudah mati maka penyuciannya dilakukan dalam purgatori itu. Sebaliknya, dalam Kristen Protestan kita tidak menemukan konsep mengenai apa penyucian. Dalam Kristen Protestan orang-orang yang sudah mati masih harus menantikan saat tibanya penghakiman akhir itu. Tidak jelas disebutkan dimana mereka harus menjalani masa penantian, namun penjelasan yang sering diberikan adalah mereka berada di Firdaus[7] (tidak jelas dimana Firdaus itu berada).

Hal menarik lainnya adalah mengenai dosa besar dan dosa kecil dalam Islam. Dalam Kristen kita tidak mengenal dosa dalam ukuran besar atau kecilnya, yang ada adalah tentang doktrin gereja yang mengajarkan tentang dosa keturunan. Dalam Islam sendiri pengertian dosa besar dimengerti sebagai kesalahan besar terhadap Allah karena melanggar aturan pokok yang diancam dengan hukuman berat, dunia dan akhirat. Sedangkan dosa kecil dimengerti sebagai kesalahan ringan terhadap Allah berupa pelanggaran ringan mengenai hal-hal yang bukan pokok yang hanya diancam dengan siksaan ringan. Yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah, apa ukuran dosa dapat dikatakan besar atau kecil? Banyak ahli-ahli teologi Islam juga memberi jawaban untuk hal ini, seperti misalnya bagi Ja’afar bin Mubasysyir yang mengatakan bahwa dosa besar itu ialah setiap niat yang digunakan untuk melakukan perbuatan dosa dan setiap orang yang melakukan perbuatan maksiat dengan sengaja adalah dosa besar, atau beberapa pendapat-pendapat dari beberapa ulama yang mengatakan bahwa dosa besar dan dosa kecil dapat di lihat bila kita membandingkan kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh dosa-dosa tersebut. Apabila pada kenyataannya kerusakan yang ditimbulkan itu hanya sedikit, maka yang demikian itu adalah dosa kecil, tetapi bila kerusakan yang ditimbulkannya itu seimbang atau lebih besar, maka hal itu merupakan dosa besar.[8] Di Kristen pengertian dosa besar dan dosa kecil tidak ada dibahas, tidak ada yang nama dosa kecil atau dosa besar; dosa ya tetap dosa. Kamu tetap tidak akan dibenarkan apabila kamu terbukti melakukan tindakan salah dan tidak sesuai dengan ajaran Kristen. Hanya saja seperti yang telah kita bahas diatas, karena kasih dan anugrah Allah sehingga Ia mengutus anakNya, Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia dari dosanya. Yang cukup fenomenal dalam dokrin Kekristenan adalah konsep tentang dosa keturunan yang dimiliki manusia sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Dalam ajaran Islam tidak ada yang namanya dosa keturunan. Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Ia bertobat dan Allah mengampuni mereka. Setiap dosa yang dilakukan oleh manusia, dia sendirilah yang harus membayar dosa-dosanya. Sehingga dalam kasus Adam dan Hawa tidak ada dosa yang turunkan.

IV. REFLEKSI
Ajaran dan pemahaman kedua agama besar ini tentang dosa dan pengampunan cukup jelas memperlihatkan bahwa sebagai umat beragama dosa dan pengampunan menjadi sesuatu yang sangat populer bagi hidup manusia. Keduanya sama-sama memahami dosa sebagai bagian yang tak dapat terlepas dari kehidupan manusia, dan untuk itu manusia memerlukan pengampunan/tobat sebagai tanda penyesalannya yang tulus akan dosa yang telah ia lakukan.

Walaupun tidak bisa disangkal bahwa kedua agama besar ini punya konsep dan cara memahami yang berbeda tentang dosa. Setiap agama tentu saja memiliki pemahaman yang berbeda-beda sesuai dengan keyakinan, dan inilah keanekaragaman yang patut kita syukuri dengan saling menghargai dan menghormati ajaran agama satu sama lain. Yang jelas kita ketahui bahwa keduanya menjelaskan dosa sebagai suatu tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah sedangkan pengampunan adalah apa yang diberikan Allah kepada umatNya sebagai tanda kasihNya bagi seluruh umat yang percaya kepadaNya.



[1] Berdasarkan buku : Moucarry, Chawkat (Terj: Pdt. Djaka Soetopo). Two Prayers for Today. 2007
[2] Wakil dari ortodoxi Islam 
[3] Doa Muhammad didasari atas hak istimewanya sebagai nabi terakhir, dan Allah telah mengampuni dosa-dosanya terlebih dahulu. Untuk itu sebagai hasil dari doa-doa nabi, Allah mengampuni dosa-dosa orang Muslim.
[4] Wakil dari ortodoxi Islam 
[5] Salah satu aliran mistik Islam yang sangat berpengaruh dalam komunitas Muslim
[6] Imam Al-Ghazali, Rahasia Taubat, terj. Muhammad Bagir. Bandung:Mizan Media Utama. 2003,p. 61
[7] Merujuk kepada Luk. 23:43
[8] Hasil diskusi dengan Erina (Mahasiswi teologi UIN Sunan Kalijaga angkatan 2010) pada hari Selasa, 10 Desember 2013

Sunday, 8 December 2013

Kebahagiaan sebagai Tujuan Akhir Manusia?? Pemikiran Filsafat Yunani dalam Hubungannya dengan Kekristenan

      I.  PENDAHULUAN
Dari apa yang telah kita pelajari sepanjang satu semester ini, kita tahu bahwa sebagian besar dalam ajaran Filsafat Yunani menekankan KEBAHAGIAAN sebagai tujuan akhirnya. Yang menjadi fokus utama dalam pembahasan makalah tugas akhir ini adalah memperlihatkan bagaimana konsep kebahagiaan dalam ajaran Filsafat Yunani sedikit banyak juga mempengaruhi konsep kebahagiaan dalam ajaran Kekeristenan; tentang bagaimana Kekristenan hidup dan menerapkan arti kebahagiaan yang sebenarnya dalam pemikiran yang bersifat Kristiani di setiap kehidupannya.


   II. KEBAHAGIAAN SEBAGAI PENCAPAIAN TERTINGGI DALAM AJARAN FILSAFAT YUNANI
Sejak dari sadarnya para filsuf bahwa mitos-mitos saja tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang alam dan sekitarnya, mereka kemudian mulai mencari tahu dan mempelajari hal-hal yang ada disekitarnya untuk mendapatkan penjelasan yang lebih masuk akal. Perkembangan ilmu yang terjadi sangatlah menakjubkan. Semua ilmu yang dikembangkan oleh para Filsuf pada akhirnya bertujuan untuk mencari tahu bagaimana cara manusia mencapai “kebahagiaan”.
Sokrates 469-399 SM
Dalam ajaran Sokrates mengenai jiwa manusia hal ini sangat ditekankan. Sokrates mengemukakan bahwa jiwa manusia bukanlah nafasnya saja, tetapi merupakan unsur terpenting dalam hidup manusia. Jiwa merupakan inti sari manusia. Karena jiwa merupakan inti sari manusia, maka manusia wajib mengutamakan kebahagiaan jiwanya (eudaimonia = memiliki daimồn atau jiwa yang baik), lebih daripada kebahagiaan tubuhnya atau kebahagiaan yang lahiriah. Manusia harus membuat jiwanya menjadi jiwa yang sebaik mungkin.[1] Nah, untuk mencapai eudaimonia diperlukan kebajikan atau keutamaan (arête), seperti perdirian Sokrates yang terkenal: “Keutamaan adalah pengetahuan”. Keutamaan di bidang hidup baik tentu menjadikan seseorang dapat hidup baik. Hidup baik berarti menerapkan pengetahuannya tentang hidup baik itu. Jadi baik dan jahat dikaitkan dengan soal pengetahuan, bukan dengan keinginan manusia. Maka menurut Sokrates, tidak mungkin orang dengan sengaja melakukan hal yang salah. Kalau orang berbuat salah, hal itu disebabkan karena ia tidak berpengetahuan.[2] Jadi kebahagiaan dapat dicapai dengan pengetahuan.
Plato 427-347 SM
Karena Plato merupakan murid Sokrates yang paling banyak menuliskan pemikiran-pemikiran gurunya, maka kemungkinan besar pemikiran Plato tidak berbeda jauh dengan pemikiran Sokrates dalam beberapa hal. Sama seperti pemikiran Sokrates, Plato juga mengemukakan bahwa eudaimonia merupakan tujuan hidup manusia. Bagi Plato manusia harus mengupayakan kebahagiaannya (eudaimonia) itu.[3] Menurutnya kebahagiaan/kesenangan itu tidak hanya kepuasan hawa nafsu selama hidup di dunia (indrawi) saja tetapi kebahagiaan juga harus dilihat dalam hubungan ke dua dunia (dunia indrawi/jasmani dan dunia Idea). Maksudnya, dengan kata lain disamping kebahagiaan indrawi kebahagiaan yang hakiki yang berkaitan erat dengan batin yakni dunia Ide juga perlu diupayakan. Untuk itu, untuk mencapai pada kebahagiaan (eudaimonia) dalam dunia Ide, manusia harus selalu melakukan apa yang baik, sebab bagi Plato semua kebaikan dan kebajikan ada di dunia Ide (dunia Ide adalah realitas yang sesungguhnya, sedangkan yang indrawi itu merupakan realitas bayangan).
Aristoteles 384-322 SM
Aristoteles memulai ajarannya tentang kebahagiaan dari mempertanyakan bagaimana manusia mencapai hidup yang baik. Menurutnya, manusia untuk mencapai kebahagiaannya adalah dengan hidup yang baik. Hidup yang baik di sini maksudnya ialah hidup bermakna, suatu hidup yang terasa penuh dan menentramkan. Untuk dapat hidup bermakna seseorang harus mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya. Pertanyaannya sekarang adalah apa yang menjadi tujuan hidup manusia? Menurut Aristoteles jawabannya adalah, kebahagiaan (eudaimonia).[4] Sama dengan pendahulunya, kebahagiaan yang dimaksud di sini bukan hanya terbatas pada perasaan subjektif seperti senang atau gembira yang adalah aspek emosional, melainkan lebih mendalam dan objektif menyangkut pengembangan seluruh aspek kemanusiaan suatu individu (aspek moral, sosial, emosional, rohani). Menurut Aristoteles kebahagiaan dapat dicapai dengan hidup secara bermoral (hidup baik), karena itulah jalan menuju kebahagiaan. Tujuan moralitas adalah untuk mengantar manusia ke tujuan akhirnya, yakni kebahagiaan.[5] Kebahagiaan diwujudkan oleh setiap orang dengan jalannya masing-masing. Kemampuan setiap orang untuk mewujudkan kebahagiaan juga tidak sama. Semakin seseorang memandang kebahagiaan sebagai tujuan akhir dalam hidupnya, maka semakin terarah dan mendalam aktivitas-aktivitas yang dilakukannya untuk “hidup baik”. Dalam hal ini, Aristoteles menempatkan keutamaan dalam posisi istimewa. Menurutnya supaya manusia bahagia, ia harus menjalankan aktivitasnya menurut keutamaannya.
Epikuros 341-271 SM
Ajaran Epikuros diarahkan kepada satu tujuan akhir, yakni menjamin kebahagiaan manusia dengan Etika sebagai inti pemikirannya. Etika Epikuros hendak memberikan ketenangan hati (ataraxia) kepada manusia, sebab menurut Epikuros ketenangan hati ini terancam oleh rasa takut – diantaranya rasa takut terhadap dewa-dewi, rasa takut terhadap kematian, dan rasa takut terhadap nasib – yang sebenarnya tidak mendasar dan tidak masuk akal.[6] Epikuros menekankan bahwa tujuan hidup manusia adalah hedone (kenikmatan, kepuasan) yang dapat kita miliki bila hati kita tenang dan tubuh kita sehat. Namun kata hedone sering disalah artikan oleh kebanyakan orang. Hedone yang ditekankan oleh Epikuros bukan berarti bahwa kita harus secara membabi buta mengikuti hasrat kita. Bahkan sebaliknya, kesenangan yang sesungguhnya tidak tercapai dengan mencari pengalaman nikmat sebanyak mungkin, tetapi dengan menjaga kesehatan dan berusaha hidup sedemikian rupa hingga jiwa bebas dari keresahan. Untuk itu manusia yang mau bahagia justru harus membatasi diri. Ia harus dapat senang dengan yang sederhana.[7]
Stoa (Stoa baru pada Zaman Romawi) ± 50-200 M
Etika Stoa juga mengajarkan jalan menuju kebahagiaan. Menurut Stoa, kebahagiaan datang dari keberhasilan hidup seseorang. Kehidupan manusia berhasil apabila ia dapat mempertahankan diri, sebab manusia ditentukan oleh hukum alam semesta (point penting: bagi kaum Stoa Tuhan = alam), ia mampu mempertahankan diri apabila ia dapat menyesuaikan diri dengan hukum alam. Menurut Stoa, dalam kehidupan manusia: perbuatan baik = menyesuaikan diri dengan hukum alam, perbuatan buruk = tidak mau menyesuaikan diri. Di sini terlihat Stoa menentang kebebasan bahwa manusia bebas dari takdir. Menurut Stoa, manusia yang bijaksana adalah mereka yang menerima takdirnya serta mampu melakukan keutamaannnya. Keutamaan bagi Stoa terdiri dalam kesadaran akan kewajiban dan melepaskan diri dari segala ketergantungan terhadap benda-benda duniawi – dimana manusia harus menaklukkan hawa nafsu dan hal-hal rendah lainnya, sebab orang yang mengikuti hawa nafsunya akan kehilangan autarkia-nya (manusia sama sekali berdiri pada dirinya sendiri = manusia yang tak terbingungkan) – Dengan begitu manusia dapat sampai kepada ketenangan batin. Bedanya dengan Epikuros, Stoa mengemukakan bahwa ketenangan batin justru memampukan seseorang untuk mengambil bagian aktif dalam kehidupan bermasyarakat, serta bersikap positif dan bertanggung jawab terhadap masyarakat disekelilingnya.[8] Di sini Stoa memperlihatkan sisi kemanusiaan yang bersifat universal. Ia mangajarkan bahwa terhadap siapa pun kita hendaknya bersikap baik hati, tidak pamrih, toleransi, dan mengekang hawa nafsu.

III. KEBAHAGIAAN DALAM PERSPEKTIF KEKRISTENAN
Apa yang telah saya paparkan diatas tentunya memberi pengaruh penting dalam ajaran Kekristenan, terkhususnya pada Perjanjian Baru. Kita tidak bisa menghindari bahwa ternyata pengaruh filsafat sangat kuat dalam etika moral Kristiani. Konsep kebahagiaan dalam Kekristenan merupakan salah satu bagian yang cukup dipengaruhi oleh pengaruh filsafat. Perikop dalam Mat.5:1 – 12 tentang ucapan bahagia jelas-jelas memperlihatkan kepada kita bagaimana konsep kebahagiaan yang dipegang oleh orang-orang Kristen. Kata berbahagialah (Yunani: Μακάριοι) dalam perikop ini menunjukkan satu ungkapan yang lebih dari sekedar ungkapan happy/senang/gembira tetapi blessed (diberkati). Dalam hal ini terlihat kesamaan antara konsep kebahagiaan yang dicetuskan dalam Filsafat Yunani dan ajaran Kekristenan bahwa keduanya sama-sama tidak melihat kebahagiaan sebagai sesuatu yang bersifat subjektif – kebahagiaan sebagai sebuah perasaan – tetapi yang objektif. Namun, bukan berarti ajaran Kekristenan menolak makna subjektifnya. Orang-orang Kristen tentu saja boleh menikmati hidup ini dengan merasakan kesenangan dan sukacita, tetapi unsur utama yang dipentingkan adalah dari sisi objektifnya.

Selanjutnya dalam perikop ini kita juga bisa menemukan satu unsur penting lainnya yang ditekankan yakni kelemah-lembutan (ay.5), kemurahan hati (ay.7), serta kesucian/kemurnian hati (ay.8) yang dalam Filsafat Yunani merupakan jalan menuju kebahagiaan. Plato mengemukakan bahwa manusia bisa bahagia apabila ia mementingkan kebahagiaan batinnya ketimbang indrawi. Aristoteles mengemukakan bahwa manusia bisa bahagia apabila ia mampu hidup dengan baik, dengan mempraktekkan keutamaan-keutamaannya sebagaimana ia mengembangkan potensi diri semaksimal mungkin untuk kebaikan komunitasnya. Begitu juga dengan Epikuros dan Stoa yang menekankan aspek batiniah (ketenangan hati) ketimbang duniawi (materi); walaupun Epikuros sifatnya lebih individual sedangkan Stoa lebih universal (komunitas masyarakat). Keduanya secara tidak langsung mengemukakan bahwa untuk mencapai kebahagiaan hal-hal ini merupakan syarat; walaupun dalam ajaran Kristen hal ini bukan untuk dirinya sendiri tetapi berfokus kepada Allah. Point penting yang ingin di tekankan di sini adalah bahwa dalam tradisi Kekristenan kita diajarkan tentang iman, pengharapan, dan kasih yang justru mengarahkan orang-orang Kristen ke luar dari dirinya sendiri dan berorientasi pada Allah dan sesamanya.

Bila kita cermati perikop ini, apa yang disampaikan oleh Yesus dalam khotbahNya dibukit menekankan akan iman dan pengharapan dalam menyikapi penderitaan dan kesusahan (lih. ay. 10-12). Umat dituntut untuk tetap sabar dan “berbahagia” walau ditengah-tengah penderitaan. (seperti yang kita ketahui) hal ini tentu saja berbeda dengan ajaran Stoa yang menunjukkan bunuh diri adalah pilihan yang sah dalam kondisi penderitaan dan kesusahan yang berat. Selain itu masalah mengenai respon perasaan atau emosi yang dimiliki manusia. Dalam ajaran Filsafat Yunani (walau tidak semua) kebahagiaan berarti lepas dari dukacita, perasaan sedih, sebab orang yang bijak dalam pengertian Filsafat Yunani adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya terhadap hal-hal duniawi, termasuk perasaannya. Tidak begitu kebahagiaan yang dimaksud dalam ajaran Kekristenan. Walaupun bahagia, bukan berarti kesedihan/dukacita itu dilarang (lih. ay. 4). Yesus dalam kehidupanNya pun pernah merasa sedih (con. Ketika Yesus menangis di taman Getsemani). Untuk itu dalam ajaran Kekrsitenan perasaan-perasaan seperti sedih bukanlah sesuatu yang salah melainkan sesuatu yang wajar.[9]

Walaupun dari luar kita melihat banyak kesamaan, ternyata dalam beberapa hal terdapat perbedaan disana-sini. Point yang ingin ditekankan adalah bagaimana dalam ajaran Kristen kita kita diajarkan tentang kecukupan diri yang berada dalam ketergantungan atas anugrah Allah – inilah yang membedakan ajaran Kekristenan dan Filsafat – Kecukupan diri disini maksudnya tidak berpusat pada diri sendiri tetapi merupakan sebuah “kepuasan” yang memampukan seseorang untuk melayani sesamanya.

       IV. KESIMPULAN
Kekristenan tentu saja memandang kebahagiaan bukan sebagai pencapaian duniawi. Kebahagiaan yang sebenarnya dicapai  setelah kehidupan ini (bersama dengan Tuhan), untuk itu dalam ajaran Kekristenan manusia diajarkan untuk tidak berfokus mencari kebahagiaannya di dunia ini saja tetapi justru hidup sedemikian rupa sehingga sesudah hidup ini ia betul-betul bahagia. Jadi hidup ini menjadi suatu perjalanan ke tujuan manusia yang sebenarnya, yakni kepada Tuhannya. Namun bukan berarti manusia tidak diperbolehkan untuk menikmati apa yang ada di dunia ini. Dalam ajaran Kekristenan segala apa yang ada di dunia ini, yang dapat dinikmati oleh manusia merupakan suatu berkat dari Allah kepada umatNya. Walaupun tentu saja manusia diajarkan untuk tidak memusatkan diri pada kehidupan duniawinya (materi) saja, melainkan juga kepada kehidupan spiritualnya (batin).

Selain itu, kita juga tahu bahwa ternyata tidak semua ajaran Filsafat Yunani tentang kebagiaan relevan dengan Kekristenan; beberapa diantaranya memang sejalan namun beberapa diantara tidak. Pola hidup yang diterapkan dalam ajaran Filsafat Yunani menurut saya menunujukkan beberapa kesamaan dalam pola hidup Kekristenan; hidup sederhana, saling berbagi dan aktif dalam kehidupan masyarakat, serta hidup tidak dengan mengikuti kedagingannya (keinginan hawa nafsu) saja melainkan juga hidup kudus.   Selain itu ajaran-ajaran Filsafat ini juga ternyata mampu mengingatkan kita orang-orang Kristen di zaman sekarang bahwa kebahagiaan utama kita bukan pada kehidupan duniawi, tetapi ada dalam  relasi kita dengan Yesus Sang Penebus yang telah mengundang kita masuk dalam Kerajaan Allah.


[1] bdk. K. Bertens. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta. Kanisius. 1999, p.106
[2] lih. Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Yogyakarta. Kanisius. 1980, p.36-37
[3] bdk. K. Bertens. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta. Kanisius. 1999, p.141
[4] lih. Franz Magnis-Suseno. 13 Tokoh Etika Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19. Yogyakarta:Kanisius. 1997,p. 29-30
[5] bdk. Franz Magnis-Suseno. Menjadi Manusia: Belajar dari Aristoteles. Yogyakarta:Kanisius. 2009,p. 4-7
[6] lih. Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat 1. Yogyakarta. Kanisius. 1980, p.54-56
[7] bdk. Delfgaauw, Bernard. Sejarah Ringkas Filsafat Barat. Yogyakarta:Tiara Wacana. 1992,p. 38-40
[8] lih. Franz Magnis-Suseno. 13 Tokoh Etika Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19. Yogyakarta:Kanisius. 1997,p. 56-61
[9] Bisa dilihat juga di Roma 12:15, “Bersukacitalah dengan ornag yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”

Sunday, 24 November 2013

Tafsir Yesaya 48: 1-10

I.    PENDAHULUAN
Marie-Claire Barth menyusun perikop ini dalam 3 bagian,
Ay 1-2          : seruan, agar Israel mendengarkan TUHAN (sapaan yang dilengkapi dengan berbagai-bagai keterangan)
Ay 3-6a        :  firman TUHAN tentang nubuat lama dan penggenapannya
Ay 6b-11      :  firman TUHAN tentang hal-hal baru yang akan dilaksanakanNya

Yesaya 48 dalam perikop ini, rupanya mempunyai bentuk dan tujuan yang agak sulit ditemukan. Didalamnya seolah-olah terjalin dua pikiran yang berlainan. Di satu pihak firman ini hendak meyakinkan Israel bahwa TUHAN memimpin sejarah dan segera akan menyelamatkan  umatNya dengan perantaraan Koresy, sedangkan dipihak lain firman ini juga menyampaikan alasan-alasan yang mendorong TUHAN untuk memasukkan umatNya ke dalam dapur kesengsaraan, dan melanjutkan firman-firman hukuman nabi-nabi yang terdahulu.
Kedua benang pikiran diatas bertentangan atau saling mendukung masih diperdebatkan oleh para ahli Perjanjian Lama. Beberapa terpengaruh oleh penilaian sejarah bahwa mungkin firman ini digunakan untuk memberi teguran dalam  situasi yang baru kepada bangsa Israel sesudah kembali ke tanah suci. Untuk itu firman ini sebaiknya dipandang sebagai khotbah pada Hari Peringatan jatuhnya Yerusalem. Sehingga kita dapat melihat maksud firman ini sebagai bentuk kesadaran umat akan hukuman-hukuman yang diberikan Allah kepada nenek moyang mereka karena dosa-dosa mereka, dan yakin kalau Allah jugalah yang menolong dan menyelamatkan mereka (Hipotesa yang tidak dapat dibuktikan). Namun tidak jelas mengapa firman ini saja yang diberi tambahan, dan bukan firman-firman lain yang serupa.

II. TAFSIRAN
Ayat 1-2
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa umat (sebagai kaum keturunan Yakub) hidup dari berkat TUHAN. Kata keturunan Yakub, harafiah dengan “rumah” dalam arti keluarga, marga, family, yang diberkati yang terdiri dari mereka yang menyebut diri dengan nama Israel.
Anggota umat ini menjawab berkat Allah dengan dua bentuk: 1). Bersumpah dengan nama TUHAN, yaitu mereka yang memilih TUHAN sebagai penjamin janji-janji yang mereka ikrarkan; siapa yang memenuhi janjinya diberkati, siapa yang mengingkari janjinya dihukum. 2). Dengan mengakui ALLAH Israel, yaitu dengan mengingat perbuatan-perbuatan Allah kepada Israel untuk memuji-muji Dia dan memberitakan kemasyuranNya. Dalam kata Ibrani “mengingat” (dalam arti khusus “mengakui”) bila dibandingkan dengan Maz 38:1 pada waktu persembahan korban, maka sumpah dan pengakuan ini merupakan dua segi yang penting dalam kebaktian Israel.
Mereka bertopang kepada Allah Israel TUHAN semesta alam. Namun semuanya itu dilakukan tidak dengan sungguh-sungguh (dalam arti yang tahan uji) dan bukan dengan tulus hati. Arti catatan ini memusingkan penafsir, sebenarnya apakah bangsa Israel menyangkal kebaikan TUHAN? Kalau memang benar maka ay.1-2 berlawanan dengan bagian ini. Menurut Marie-Claire bagian ini harus dipandang sebagai bagian yang ditambahkan dari tangan lain. Menurutnya, bagian ini memberitahukan tentang keselamatan. Namun juga sekaligus ingin memperingatkan kepada para pendengar bahwa keselamatan ini baru genap bila mereka membiarkan diri diperbaharui oleh TUHAN untuk benar-benar berbakti kepadaNya dengan segenap hati.

Ayat 3-6a
Apa yang telah terjadi pada bangsa Israel sejak di Mesir sebenarnya sudah Tuhan beritahukan melalui penglihatan nabi atau suatu pendengaran yang mengarah ke masa depan. Meskipun pemberitahuan tersebut disampaikan oleh nabi, namun hal tersebut di sah kan oleh Tuhan sendiri. Tuhan menjamin kebenarannya. Tuhan melakukan apa yang telah Ia sampaikan menjadi kenyataan. Bahkan Yesaya 2 melukiskannya dengan halus bahwa realita yang Tuhan lakukan melebihi bayangan manusia, meskipun kejadian tersebut sudah diberitakan sebelumnya. Namun, bukti yang digunakan untuk bangsa lain, sekarang berbalik pada bangsa Israel sendiri. Dikatakan bahwa 1). bangsa Israel adalah umat yang tegar tengkuk, seperti ketika mereka mendirikan patung lembu emas di gurun dan ketika mereka menyangka bahwa bangsa Israel selamat karena jasanya sendiri. 2). Israel bangsa yang keras kepala dan berkepala batu. 3). Israel ingin menentukan nasibnya dengan menggunakan berhala dan patung. Bangsa Israel sering menggunakan kuasa ilahi dimana mereka percaya bahwa kekuasaan itu dapat menolong dalam kesuburan, kesehatan dan aspek lainnya meskipun Israel tidak menyembah ilah tersebut. Hal ini hampir sama dengan kondisi dimana kalangan orang beragama ( Kristen ) saat ini tetapi masih sangat percaya dan memakai "guna-guna" yang berasal dari agama dahulu. Hanya saja saat ini kita tidak tahu bagaimana bentuk 'guna-guna' kuasa ilahi yang dimaksud oleh penulis pada zaman itu.

Ayat  6b-8
Dibagian ini Tuhan mengabarkan dan memberi dengar dengan perantaraan Deutero-Yesaya tentang hal-hal baru yang dilukiskan dari tiga segi: 1) Hal-hal yang hingga kini tersimpan oleh Allah, termasuk rencana kebijaksanaan yang diputuskanNya. Dan Allah menjaga hal-hal itu agar tidak diketahui orang sebelum waktunya. 2) Hal-hal tersebut baru diciptakan oleh Tuhan, sesuatu yang belum pernah ada. 3) Hal-hal tersebut belum pernah dibayangkan orang, belum pernah didengarkan, belum pernah diterima dari pihak ilahi, masuk telinga dan hati, dan manusia tidak dapat bersiap-siap menghadapinya karena adalah sesungguhnya baru.
Istilah baru (Ibr khadasy) dipakai untuk pertama kali dalam hubungan dengan peristiwa-peristiwa sejarah pada jaman pembuangan: timbul kesadaran bahwa TUHAN menciptakan sesuatu yang baru di bumi, membuka babak baru dalam sejarah manusia dengan keluaran baru, keselamatan baru untuk seluruh umat manusia, persekutuan dan perjanjian baru.
Hal-hal baru apa yang dimaksudkan? Marie-Claire memastikan tindakan itu adalah tindakan-tindakan penyelamatan, yang mungkin dengan perantaraan orang luar seperti Koresy, yang diberikan kepada suatu bangsa yang tidak wajar menerimanya, karena mereka tidak setia kepada TUHAN yang mengikrarkan perjanjian dengannya: umat Israel, yang disebut berbuat khianat sekeji-kejinya, berada di luar persekutuan dengan Allah, dan memberontak sejak dari kandungan.

Ayat 9-10
Pada bagian ini, seharusnya TUHAN menjatuhkan hukuman mati, akan tetapi TUHAN menahan amarahnya, secara harafiah “membuat panjang nafasNya”. Disini TUHAN digambarkan sebagai Allah yang panjang sabar. TUHAN yang mengasihi dan tidak melenyapkan umatnya, akan tetapi memurnikannya. “memurnikan” disini yang dimaksud adalah untuk meleburkan logam yang berharga, dileburkan supaya yang berharga itu Nampak.“ Aku telah memurnikan engkau bagiKu seperti perak”. TUHAN memurnikan umatnya dengan cara menguji dalam dapur kesengsaraan Babel, memberikan hukuman-hukuman kepada umatnya pada saat pembuangan. Hal ini dilakukan TUHAN untuk membersihkan umatNya dari unsur-unsur yang tidak baik dan pada akhirnya TUHAN mendapatkan “sisa yang suci”.

Friday, 22 November 2013

Tafsiran Metode Historis Kritis terhadap Titus 2: 1-10 “Kewajiban Orang tua, Pemuda dan Hamba”

Latar Belakang
Paulus merupakan salah seorang rasul besar yang sudah menuliskan beberapa surat dan suratnya juga dikanonkan dalam kitab Perjanjian Baru. Surat-suratnya ditujukan baik untuk jemaat-jemaat maupun untuk perorangan. Salah satu surat yang ditujukan untuk perorangan adalah suratnya kepada Titus.  Surat ini digolongkan ke dalam surat-surat Pastoral bersama dengan I dan II Timotius. Sebutan surat Pastoral diberikan kepada surat-surat ini sejak abad ke 2 M. Meskipun mungkin sebutan ini tidak sepenuhnya tepat, namun isinya cukup mencerminkan sebutan tersebut. Surat-surat ini disebut surat pastoral “Karena surat-surat ini ditulis dengan perasaan kasih dan kehangatan, maka dianggap kudus dan dihargai di seluruh Gereja untuk mengatur tata Gerejani”[1].

Ketiga surat ini (I Timotius, Titus, II Timotius) dikelompokkan dalam satu judul karena mewujudkan satu kesatuan: ditulis oleh seorang gembala kepada para gembala (jiwa); Itulah sebabnya mengapa sebutan “surat pastoral” sungguh tepat. Namun surat-surat ini merupakan satu kesatuan bukan hanya karena permasalahannya, melainkan juga karena bernafaskan satu semangat kelembutan dari seorang gembala yang menulis kepada gembala lain. Terlebih gaya bahasa dan kosakata yang sama, juga keadaan sejarahi yang tidak jauh berbeda mempengaruhi surat-surat ini.

Karena surat ini dikelompokkan sebagai salah satu surat pastoral, maka tujuan surat ini dikirimkan kepada Titus di Kreta adalah untuk memberikan semacam “pedoman” bagi pengembalaan jemaat, selain itu juga sebagai petunjuk-petunjuk cara bagaimana menata hidup jemaat-jemaat dan menanggulangi ajaran sesat. Berbicara soal ajaran sesat, Ajaran-ajaran sesat yang sedang beredar di jemaat saat itu ternyata cukup mengganggu jemaat Kristen. “Bidah” (ajaran sesat) itu semacam penyakit yang menggerogoti umat yang datang dari roh-roh jahat dan iblis. Ajaran sesat yang beredar itu banyak menyangkut hukum taurat Yahudi yang menyimpang. Salah satunya, ajaran sesat itu mencampuradukkan kepercayaan Kristen dengan salah satu aliran “kebatinan” Yahudi yang menyimpang dari agama Yahudi. Disamping unsur-unsur dari “kebatinan Yahudi” ada juga unsur-unsur yang mirip dengan “kebatinan Yunani”. Paling jelas ajaran bidah itu adalah bahwa “kebangkitan sudah terjadi” (2Tim 2:18). Berarti mereka menyangkal kebangkitan badan di akhir zaman. Pada saat itu orang beriman sudah pindah dari kehidupan fana kepada kehidupan yang tidak binasa, sedangkan kejasmanian orang tidak diikutsertakan. Rupanya para bidah berkhayal tentang suatu “kerajaan cahaya” (bdk.1Tim 6:16) yang dimasuki melalui ngelmu gaib tentang Allah (Tit 1:16; 1Tim 6:20; 2Tim 3:4). Sebagai sarana untuk mendapat “ngelmu gaib” itu para bidah menyiarkan aturan, ulah tapa khusus dengan melarang makanan tertentu dan kawin. Kejasmanian agaknya dinilai sebagai halangan untuk “kerohanian” dan karena itu orang mesti melakukan berbagai pantangan. Semuanya itu mengingatkan kita pada pelbagai agama dan aliran kebatinan (filsafat Neophytagoras dan Neoplatonisme) yang tersebar di dunia Yunani-Romawi di zaman itu dan terdapat juga pada orang-orang Yahudi di perantauan.  Ajaran ini (mazhab phytagoras) sangat mengutamakan makna religiusnya. Kehidupan kelompoknya sehari-hari sangat menekankan kehidupan bersama, sama seperti dalam jemaat mula-mula; seluruh pengikut ajarannya hidup berdasarkan aturan dengan tujuan spiritual. Bandingkan juga dengan ajaran Neoplatonisme mengenai tubuh dan jiwa. Dimana tubuh (jasmani) dianggap sebagai penghalang hidup rohani.

Ketiga karangan yang disebut sebagai surat pastoral itu merupakan usaha untuk membereskan sedikit kekacauan yang melanda jemaat-jemaat Paulus. Namun permasalahnya adalah benarkah Paulus yang menulis surat itu kepada Titus yang sedang berada di Kreta? Memang ketiga karangan tersebut jelas memperkenalkan diri sebagai surat-surat Paulus. Tidak hanya nama sang Rasul saja yang disebut pada awal surat tersebut, tetapi juga memaparkan beberapa informasi terperinci tentang hal-hal pribadi antara Paulus dan Timotius serta Titus. Namun ada juga sejumlah berita konkret yang sangat pribadi, khususnya dalam 1Tim. Paulus berada dalam penjara di Roma (2Tim 1:8) sedangkan masih bebas dalam 1Tim 1:4; 4:13; dan Tit 3:12. Paulus juga sudah beberapa kali dihadapkan ke pengadilan (2Tim 4:16). Paulus tertinggal seorang diri (2Tim4:16; 1:15), sehingga hanya Lukas masih bersama dengannya (2Tim 4:11). Tidak ada harapan Paulus akan dibebaskan (2Tim 4:6-8,18). Ada berita tentang beberapa teman Paulus (2Tim 4:9,10,12,14,20)dan pesan bagi Titus, supaya segera dating ke kota Nikopolis untuk menemui Paulus setelah penggati Titus di pulau Kreta (Tit 3:12). Informasi-informasi yang detail semacam inilah yang membuat surat ini disebut sebagai surat pastoral dan selalu diterima sebagai karangan Paulus, walaupun banyak para ahli menolak surat ini sebagai surat karangan Paulus (walaupun ada juga yang tetap mendukung bahwa surat ini merupakan surat yang seluruhnya dibawah tanggung jawab Paulus. Mungkin Paulus menggukan sekretaris ketika ia didalam penjara sehingga ia tetap bisa menuangkan ide pemikirannya dalam surat-surat ini). Memang ada pelbagai kesulitan sulit diatasi kalau surat-surat pastoral dianggap sebagai karangan paulus. Untuk itu sebaiknya karangan-karangan itu dilepaskan dari diri Paulus. Kita berhadapan dengan tiga karangan “pseudo-epigraph”, karangan gadungan.

Kesulitan yang kita hadapi disini dating dari informasi terperinci yang disebutkan oleh ketiga surat-surat pastoral ini. Informasi ini agaknya sedikit berlawan bila dibandingkan dengan informasi  riwayat hidp Paulus dan hal-hal lain mengenai dirinya yang terdapat dalam surat-surat Paulus dan Kisah para Rasul. Kelompok juga sempat memperdebatkan hal ini, (harap maklum karena kami juga masih belajar) misalnya dalam Kis 2, Paulus diberitakan tidak pernah memberitakan injil di Kreta dan hanya singgah sebentar ketika dalam perjalanannya sebagai tahanan berlayar ke Roma. Bagaimana mungkin Paulus meninggalkan Titus di sana untuk melanjutkan dan menyelesaikan organisasi jemaat di seluruh pulau waktu itu (Tit 1:5). Jalan akhir yang kami ambil dari diskusi ini adalah mungkin Paulus meninggalkan Titus di Kreta dalam perjalanan berikutnya setelah Paulus dibebaskan dari penjara. Dalam hal ini Kisah rasul juga tidak memberitakannya secara lengkap. Ia juga tidak memberitahukan apakah Paulus mati. Karena itu mungkin Paulus pada tahun 62 dibebaskan dari tahanan. Tetapi tidak ada satupun berita lain yang menjelaskan bahwa Paulus masih berkeliling di kawasan Timur (kecuali dalam surat-surat Pastoral). Sekali lagi, kita hanya bias mengira-ngira permasalahan ini. Sebab, keterangan-keterangan yang terdapat dalam surat-surat pastoral, seperti permohonan untuk segera dating atau janji untuk tidak lama lagi akan berjumpa ternyata sangat lazim digunakan pada zaman itu. Selain itu soal gaya bahasa yang digunakan oleh si penulis dan gaya bahasa Paulus dalam surat-suratnya yang lain rupaya agak berbeda. Sebab gaya bahasa yang digunakan dalam surat-surat pastoral jauh lebih “Yunani” dibandingkan dengan gaya bahasa Yunani yang ditemukan dalam surat-surat Paulius yang lain.

Kita kembali ke surat Titus. Sebelum kita masuk pada konteks masyarakat Kreta maka sebaiknya kita berkenalan dengan siapa Titus ini. Titus adalah orang Kristen bukan yahudi melainkan orang yunani. Ia tidak disunat. Titus dianggap memiliki kelebihan dan kecakapan dalam memimpin. Contohnya, ia dikirim ke korintus dalam hal pengumpulan dana tetapi sebelumnya titus berhasil memulihkan hubungan antara paulus dan jemaat di korintus. Selain itu berbicara mengenai Titus sendiri, seperti yang kita tahu, ia merupakan salah satu mengikut Paulus yang setia, Ia dan Timotius juga sangat terlatih untuk menangani organisasi dan administrasi gereja-gereja. Dalam 1 Tim 1:2; Tit 1:4 disebutkan bahwa Titus dan Timotius diberi salam sebagai “anakku yang terkasih”. Sebutan ini menandakan kelembutan dan kehangatan yang mempengaruhi surat-surat ini, selain itu juga mencerminkan keeratan hubungan antara Paulus dan kedua muridnya[2].
Kreta adalah pulau yang letaknya antara yunani, asia kecil dan afrika utara. Karena letaknya yang strategis ini kreta menjadi suatu pusat perdagangan dan pelayaran. Belajar dari latar belakang sejarahnya ini, kita tahu bahwa karena letak Kreta yang strategis dan merupakan pusat perdagangan maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa tempat ini juga merupakan tempat yang marak dengan pertukaran budaya dan ajaran-ajaran kepercayaan baru (misalnya filsafat, dan ajaran-ajaran lainnya). Melihat tujuan surat ini dikirimkan kepad Titus untuk memberikan semacam pedoman bagi penggembalaan jemaat, adalah mungkin kondisi jemaat di Kreta saat itu memang sudah cukup parah dengan ajaran-ajaran sesat yang beredar dikalangan umat. Selain itu ajaran-ajaran sesat yang menjadikan wanita sebagai sasaran propagandanya membuat kita melihat bagaimana posisi wanita di zaman itu. Wanita pada saat itu dipandang lebih rendah derajatnya dibandingkan pria. Wanita tidak diperbolehkan berbica di depan umum, apalagi dalam adat istiadat Yahudi. Dalam masyarakat wanita tidak diperhitungkan. Tugas wanita hanya melahirkan keturunan dan mengurus rumah tangga. Mungkin inilah sebabnya mengapa wanitamenjadi sasaran propaganda ajaran sesat yang sedang marak terjadi di Kreta saat itu. Karena wanita punya peran penting di dalam rumah sehingga ia bisa mengabarkan ajaran-ajaran sesat itu didalam rumahnya masing-masing (akhirnya ajaran ini berkembang dalam keluarga). Dalam Titus 2:1-10 kita akan menafsir dan membahas bagaimana konteks sosial teks, sejarah, serta makna dari perikop ini.

Tafsiran Titus 2:1-10
2:1 Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat
Seperti yang dijelaskan di atas bahwa kondisi jemaat Kreta cukup memprihatinkan, mengingat banyak ajaran-ajaran sesat yang bercampur dengan ajaran Kristen. Kata tetapi engkau ingin membedakan Titus dari penganut-penganut ajaran sesat yang merusak kehidupan jemaat. Titus diminta untuk mengajarkan ajaran yang benar, yang dapat menyehatkan kehidupan jemaat. Kata sehat seringkali digunakan dalam surat-surat pastoral untuk menjelaskan ajaran yang baik dan benar. Bagi Paulus ajaran baru dapat disebut ajaran sehat, kalau itu membuahkan hidup etis yang baik. Implikasi hidup etis bagi jemaat menurut Paulus dapat dilihat dalam ayat 2-10. Paulus juga menginginkan agar tingkah laku orang Kristen dapat memberikan contoh yang baik.

2:2 Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan
Dalam bahasa aslinya kata-kata Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana adalah siuman, tidak mabuk atau secara umum : tidak tergoda oleh nafsu. Mengingat kelemahan orang Kreta dalam hal ini (bdk 1:12), oleh karena itu orang Kristen harus dapat memberikan contoh yang baik dengan sikap menguasai diri, apalagi para bapak yang sudah tua.

Terhormat dan bijaksana adalah sifat-sifat yang dijunjung tinggi di kalangan orang-orang bukan Kristen. Tetapi yang membedakan sikap laki-laki tua Kristen adalah bahwa dalam itu mereka sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan – iman, kasih dan ketekunan mereka baik. Ketiga sifat ini praktis sama dengan triad terkenal “Iman, Pengharapan dan Kasih” (1 Kor 13:13; Kol 1: 4,5; 1 Tes 1:3) Mengapa ketekunan disejajarkan dengan pengharapan? Karena ketekunan adalah suatu segi yang paling penting dari pengharapan. Di samping itu unsur penantian, pengharapan juga mempuyai unsur keuletan. Kemungungkinan menurut Budiman[3], pada masa penulisan surat-surat pastoral, sifat keuletan lebih menonjol, karena pada zaman itu gelombang-gelombang pencobaan sedang menguji ketahanan orang-orang Kristen.

2:3 Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan menfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengerjakan hal-hal yang baik.
Perempuan-perempuan tua diasumsikan sudah mempunyai banyak pegalaman hidup, mereka wajib memberikan contoh dalam hal hidup beribadah yang dianjurkan kepada perempuan-perempuan Kristen pada umumnya ( I Tim 2 : 10 ). kata Jangan memfitnah -  perempuan-perempuan tua dinilai mempunyai banyak waktu luang, dan tidak memanfaatkan waktu itu  untuk hal-hal yang berguna, sehingga mereka dapat tergoda untuk bercakap-cakap tentang hal-hal yang kosong, bahkan memfitnah orang lain (bdk I Tim 5 : 13). Jangan menjadi hamba anggur – dalam bahasa aslinya jangan diperbudak oleh banyak anggur. Itu berarti, bahwa Paulus tidak menaruh keberatan terhadap penggunaan anggur yang wajar (bdk I Tim 5 : 23). Cakap mengajar hal-hal yang baik, yaitu berdasarkan pengalaman hidup mereka, diharapkan mereka dapat memberi bekal kepada perempuan-perempuan muda. Hal ini bisa kita bandingkan dengan peranan wanita dimasyarakat, yang tidak mendapat tempat penting disana. Untuk itu Paulus lewat suratnya menyampaikan kepada para perempuan-perempuan yang tua ini untuk lebih memanfaatkan peranannya didalam rumah tangganya dengan baik.

2:4 Dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya. 
Para perempuan-perempuan tua hendaknya juga dapat memberikan cerminan baik kepada perempuan muda, dan kata kuncinya adalah menjadi teladan (ingat lagi peran perempuan sebagai pusat di dalam rumah tangga – kerjanya mengurus rumah dan mendidik anak-anaknya). Mereka hendaknya mengajar perempuan muda untuk berbaik hati dan tunduk kepada suami serta mengasihi anak-anak mereka, hal ini berlawanan dengan ajaran sesat yang mengajarkan pantangan menikah ( I Tim 4: 3; bdk Tit 1 : 15). Ayat ini menjelaskan bahwa iman Kristen tidak hanya menghalalkan, melainkan juga menguduskan dan meningkatkan hidup pernikahan.

2:5 Hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tanggannya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar firman Allah jangan dihujat orang.
Hidup bijaksana (harafiah : mawas diri) dan suci merujuk pada hal seksual. Rajin mengatur rumah tanggannya menunjukkan keberbedaan mereka dengan perempuan-perempuan dari I Timotius 5:13, yang memperlihatkan tingkah laku yang tidak pantas dan mengabaikan tugas rumah tangganya. Kata Baik hati disini mecerminkan kriteria kepribadian baik seorang perempuan pada zaman itu . Taat kepada suami adalah hal yang wajib dilakukan oleh perempuan pada masa itu (mengingat konteks sosial masyarakat saat itu yang patriakal). Walaupun Paulus mengungkapkan bahwa dalam Kristus, laki-laki dan perempuan sama (Gal 3:28) namun ajaran Paulus ini berbentrokan dengan konsep pada masa itu. Sekalipun perubahan-perubahan untuk meningkatkan derajat perempuan sudah mulai terlihat seperti di Efesus 5:25,28 ; 1 Petrus 3:7, tetapi gejala-gejala kebebasan wanita dalam jemaat purba masih belum 100% diterima oleh masyarakat, meskipun di hadapan Allah wanita dan laki-laki sederajat. Dari sini ada point penting yang kita dapatkan. Walaupun ajaran Paulus menyampaikan mengenai derajat laki-laki dan perempuan adalah sama dimata Allah, namun tidak bisa dipungkiri bahwa tradisi dalam konteks masyarakat saat itu tidak dapat dengan tiba-tiba diubah begitu saja. Apalagi ini adalah tradisi yang sudah dipegang sejak turun temurun (khusunya dalam Yahudi). Untuk itu Paulus menekankan bahwa walaupun sederajat dimata Allah perempuan harus tetap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang perempuan dalam rumah tangganya (baik hati dan taat kepada suaminya).
Agar firman Allah jangan dihujat orang kalimat ini menujukkan motif pengudusan hidup jemaat dalam surat-surat  pastoral, supaya jemaat dapat menjalankan tugas missionarisnya di dunia

2:6  Demikian juga orang- orang muda, nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal.  
Yang dimaksud orang-orang muda disini ialah laki-laki muda. Berbeda dengan perempuan-perempuan muda yang dinasehati dengan perantaraan perempuan-perempuan tua (ay 3-5), Titus harus langsung menasehati laki-laki muda, tanpa perantara laki- laki tua. Mungkin untuk menertibkan keadaan yang kacau di bidang etis di Kreta ( Tit 1 : 12)  diperlukan perananan yang langsung dari Titus sebagai pembantu rasul Paulus. Para laki-laki muda harus dinasehati, supaya mereka menguasai diri dalam segala hal. Justru penguasaan diri itu diperlukan dalam situasi, di mana hawa nafsu terlalu banyak berbicara ( 1 : 12). Kata- kata dalam segala hal menunjukkan betapa parahnya keadaan di Kreta.

2:7 Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh- sugguh dalam pengajaranmu.
Titus hanya dapat mengajak para laki-laki muda kepada perubahan cara hidup, kalau ia sendiri memberi teladan dalam berbuat baik. Dengan teladan hidup yang baik, Titus membuktikan bahwa ia memang jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajarannya, tidak munafik. Di dalam  surat-surat  Pastoral ajaran sehat senantiasa dihubungkan dengan sikap hidup etis yang baik. Disamping penampilan hidup etis yang baik ini, kejujuran dan kesungguhan pengajaran Titus harus nampak juga dalam cara baik dan motivasi baik dari pengajaran itu.

2:8 Sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita.
Tidak hanya pengajaran (ay. 7) melainkan juga pemberitannya harus sehat dan tidak bercela yaitu sesuai dengan kebenaran injil. Sehingga lawan menjadi malu ,kata lawan merujuk pada guru-guru sesat, dengan tujuan untuk menghindari perlawanan dan tuduhan-tuduhan tidak baik dari para guru-guru sesat terhadap ajaran dan pelayanan Titus dan Paulus, juga supaya mereka merasa malu akan tuduhan-tuduhan mereka melawan pelayanan Titus dan Paulus tidak dapat didukung dengan bukti-bukti, baik di bidang ajaran maupun dalam praktek hidup hamba Tuhan ini.

2:9 Hamba-hamba hendaklah taat kepada tuanya dalam segala hal dan berkenan kepada mereka, jangan membantah.
Kata hamba-hamba (harafiah : budak-budak) harus taat kepada tuannya dalam segala hal. Ini tidak berarti : juga dalam hal-hal yang jahat. Dalam segala hal berarti : sebanyak mungkin yang sesuai dengan firman Allah. Melihat konteks teks, Ada kemungkinan bahwa budak-budak Kristen, berdasarkan kedudukan mereka sebagai anak-anak Tuhan berkeberatan (bdk. membantah) untuk melakukan hal-hal yang hina. Oleh karena itu, Paulus memberikan anjuran ketaatan. Bukan berarti Paulus menyetujui perbudakkan, tetapi Paulus mau megajarkan meskipun status mereka budak namun mereka memiliki kedudukan mulia di dalam Tuhan. (1 Kor7: 22). Paulus pun berkenan kepada mereka, sikap berkenan tidak berarti, bahwa budak-budak itu boleh berpura – pura dan menjilat. Ketaatan yang tulus harus dilihat pada latar belakang Kol 3:22,23. “Taatilah tuanmu... dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.”
Melihat sejarahnya, budak merupakan bawahan yang harus selalu menuruti perintah tuannya (melihat ini, dalam ajaran Kristen tentu saja budak-budak ini tidak diperkenankan melakukan apa yang jahat) sebab ia telah dibeli dan sudah merupakan property milik si tuan. Bila dilihat dari sudut pandang patron dan client. Dalam hal ini, patron dan client merupakan hubungan yang bersifat timbal balik, yang mana baik pelindung dan yang dilindungi memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Hubungan ini lebih bersifat personal, bukan komersial dan lebih bersifat sukarela. Yang melindungi biasanya memiliki tingkat sosial lebih tinggi, juga kekuasaan dan kekuatan yang lebih, yang dilindungi memiliki sebuah kewajiban untuk mendampingi pelindungnya, orang yang dilindungi juga wajib memberikan sikap penghormatan kepada pelindungnya. Semakin tinggi status sosial si pelindung maka akan semakin banyak pula orang yang ia lindungi. Dalam konteks teks ini rupanya mulai banyak budak yang memahami ajaran Paulus, dengan menolak dan tidak mau lagi melakukan pekerjaannya sebagai seorang budak. Bukan ini yang dimaksudkan oleh Paulus, sekali lagi Paulus tidak dapat merubah kehidupan sosial masyarakat pada saat itu dengan tiba-tiba. Yang dimaksudkan Paulus dalam ajarannya adalah bahwa walaupun dengan status sebagai budak pun, mereka tetap berharga dan mulia dihadapan Allah. Untuk itu mereka tetap harus melakukan pekerjaannya itu dengan sungguh-sungguh agar berkenan dihadapan Allah, dan supaya apa yang mereka lakukan itu dilihat baik oleh orang lain, sehingga mereka juga memuliakan nama Allah. 

2:10 Jangan curang, tetapi hedaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, juruselamat kita.
Yang dimaksud dengan curang ialah mencuri baik waktu maupun benda. Adalah suatu kebiasaan bahwa para budak yang sering bekerja di dalam kondisi-kondisi berat, cenderung untuk mencuri waktu dan benda. Hal ini dibalas oleh tuannya dengan sikap yang makin keras, sehingga itu merupakan lingkaran setan yang makin memberatkan hidup budak-budak. Lingkaran setan ini dapat ditebus, bila budak-budak Kristen memberi contoh yang baik, bersikap tulus dan setia. Dengan demikian mereka mendapat penghargaan dari tuannya, bahkan dengan tingkah laku mereka budak-budak itu memuliakan ajaran Allah, artinya mereka menjadi penyebab tuannya tidak hanya memuji mereka, melainkan juga ajaran Yesus yang mereka anut ikut dimuliakan. Di sini kelihatan kedudukan yang mulia dari budak-budak Kristen. Ayat ini memperlihatkan motivasi hidup etis orang-orang Kristen dalam terang missionaris jemaat Tuhan di tengah terang dunia. (bdk. ay 5).

Penutup
Surat pastoral yang menurut tradisi diyakini ditulis oleh Paulus dan ditujukan kepada Titus, memberikan ajaran kepada jemaat di Kreta yang hidupnya jauh dari ajaran Kekristenan. Paulus memberikan contoh keteladanan hidup perseorangan maupun terhadap relasi struktural ( atau hirarkis : laki-laki, perempuan, hamba). Meskipun Paulus mencoba untuk membenahi masalah kesetaraan struktural namun menurut kelompok, Ia tetap tidak terlepas dari latar belakangnya sebagai orang Yahudi yang patriakal yang terikat oleh tradisi. Sehingga Ia masih terjebak dalam dalam adat istiadat sebagai seorang Yahudi. Ia akhirnya menyimpulkan, meskipun seseorang sederajat di hadapan Allah namun dalam konteks sosial, masyarakat tidak bisa dipungkiri keterikatannya dengan tradisi yang sudah mendarah daging. Sehingga Ia menganjurkan prinsip ketaatan agar tidak merusak sistem sosial yang sudah ada di masyarakat. Setidaknya dengan suratnya kepada Titus ini, Paulus (atau entah siapa penulis surat ini) telah telah mencoba memberikan pedoman hidup kepada jemaat di Kreta agar dapat terhindar dari ajaran-ajaran sesar yang sedang marak terjadi saat itu.  Sehingga tata jemaat yang berdasarkan tradisi iman sejati itu dapat diperkokoh terhadap bahaya dari dalam. Begitulah jemaat Allah menjadi tiang, penopang dan dasar kebenaran.



[1] Hadiwiyata, A.S. (ed) Tafsir Perjanjian Baru 7: Surat-surat paulus 2. Yogyakarta. Kanisius.1991, p.119
[2] Ibid, p.122
[3] Budiman, R. Surat-surat Pastoral I,II Timotius dan Titus. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 1984, p.136

Tuesday, 5 November 2013

Refleksi Teologis dari Pemikiran Aristoteles terhadap Kekristenan

PENDAHULUAN
Plato lahir pada tahun 384 SM di Stageira, Yunani Utara. Ayahnya adalah seorang dokter pribadi Amyntas II, Raja Makedonia. Mungkin hal inilah yang juga mempengaruhi pemikiran Aristoteles sehingga ia begitu rasionalis. Pada usia 17 atau 18 tahun Aristoteles dikirim ke Athena, untuk belajar di Akedemia milik Plato; Ia tinggal disana kira-kira 20 tahun lamanya.[1] Selama hidupnya ia telah banyak merumuskan pemikiran-pemikirannya, diantaranya yakni tentang logika, negara, metafisika, etika, dan pengetahuan tentang ontologi. 

Seperti yang telah dikemukakan diatas, salah satu pemikiran Aristoteles yang terkenal adalah mengenai fisika dan metafisika. Dasar dari pemikiran Aristoteles ini adalah logika, ia menolak pemikiran Plato mengenai idea yang terlepas dari benda, dan benda yang berpartisipasi pada idea mengenai benda. Menurutnya, ide ada dalam benda, dan manusia dapat mengenalinya melalui sebuah prosedur yang disebut mengebstraksikan.[2] Dalam hal ini Aristoteles membawa kita pada pemikirannya bahwa perubahan ditentukan oleh ‘bentuk’ dan ‘meteri’. Setiap objek menurut Aristoteles terdiri atas bentuk dan meteri, oleh karena itu perubahan menurut Aristoteles merupakan peralihan dari potensi ke aktus (yang aktual). Karena setiap gerakan mewujudkan suatu perubahan dari potensi ke aktus, maka dari dirinya sendiri yang aktus itu tidak dapat mengusahakan perubahannya. Untuk itu diperlukan adanya suatu penggerak yang pada dirinya sendiri telah memiliki kesempurnaan sehingga tidak perlu disempurnakan. Penggerak pertama yang tidak digerakkan oleh penggerak yang lain ini tidak mungkin dibagi-bagi, kuasanya tak terhingga dan kekal. Penggerak yang pertama ini tidak berasal dari dalam dunia, Ia adalah ALLAH, Ia adalah aktus murni.[3]


REFLEKSI PENGARUH PEMIKIRAN ARISTOTELES TERHADAP KEKRISTENAN
Dari penjelasan diatas bisa kita tarik benang merahnya, bahwa pada akhirnya pemikiran Aristoteles ini kembali kepada apa yang ia sebut sebagai aktus murni, penggerak segala sesuatunya, yakni Allah. Bagian inilah yang tentu saja sangat mempengaruhi pemikiran Kristen hingga saat ini. Dalam ajaran Kekristenan Allah adalah sumber segala sesuatunya, dan semua yang ada di dunia ini berada dalam tangannya, termasuk manusia. Manusia sebagai makhluk Tuhan inilah yang merupakan salah satu bagian yang penting dalam pemahaman Kekristenan. Sebagai makhluk Tuhan maka tentu saja manusia sangat bergantung padaNya. Menurut Aristoteles, Allah itu berdiri sendiri, tidak dilahirkan, tidak pernah berubah, tidak pernah berakhir, dan bersifat abadi. Dengan demikian, bagaimanapun segala sesuatu yang ada di dunia bergerak dan berpindah, tujuan akhirnya akan tetap kembali kepada Allah. Untuk itu manusia tidak dapat bergerak sendiri tanpa memerlukan “Sang Penyebab Gerak” itu, sebab “Sang Penyebab Gerak” itulah Allah.

Dalam pemahaman Kristen kita meyakini bahwa Allah selalu beserta dengan umatnya, ia selalu menjaga, melindungi, dan menuntun setiap langkah anak-anakNya. Pemaham ini nyata kita terima dalam ajaran Kekristen sebagaimana banyak diceritakan dalam Alkitab (mis. kisah Ayub, atau kisah perjalanan hidup bangsa Israel, dll). Keyakinan seperti inilah yang membuat orang-orang Kristen selalu merasakan penyataan Allah yang selalu nyata dalam kehidupan mereka, walaupun mereka tidak melihat itu secara langsung. Dalam hal ini pemikiran Aristoteles mengenai Allah sangat nyata mempengaruhi pemikiran Kekristenan. Pandangan Aristoteles mengenai Allah inilah yang kemudian memberikan pemahaman yang mudah bagi umat beragama (Khususnya Kristen dalam pembahasan ini) untuk melihat penyataan Allah itu lewat kehidupan umatNya.



[1] lih. K. Bertens. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta. Kanisius. 1999, p.154
[2] bdk. EGS. Mengantisipasi Masa Depan. Jakarta. BPK Gunung Mulia, p.247
[3] lih. Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta. Kanisius. 1980, p.48-50