Tuesday, 18 March 2014

Paul as An Eschatological Herald

I.       Injil : Paulus sebagai pengabar injil
Sama seperti apa yang telah disampaikan di atas, Paulus menyatakan dirinya sebagai seorang rasul yang diutus untuk mengabarkan Injil tentang keselamatan lewat karya penyelamatan Allah yang nyata dalam diri Yesus Kristus sebagai Anak Allah, yang sebelumnya telah dinubuatkan oleh para nabi dalam tulisan-tulisan perjanjian lama. Dalam Rom.1:3-4 Paulus sangat menekankan Yesus Kristus sang Mesias dari keturunan Daud sebagai Anak Allah yang berkuasa, yang telah bangkit dari kematian dan mengalahkan maut, yang adalah TUHAN itu sendiri. Lewat kebangkitan Kristus inilah Allah menyatakan kuasaNya.
Dalam surat Paulus kepada Jemaat di Roma, kita bisa melihat pemikiran atau dasar teologi Paulus yang berpusat pada Yesus Kristus (Kristologi) dan karya penyelamatanNya yang menebus dosa manusia lewat kematian dan kebangkitanNya. Bagi Paulus sendiri, karya penyelamatan Yesus Kristus ini dapat diterima oleh orang-orang yang percaya kepadaNya, tidak hanya untuk orang-orang tertentu saja, melainkan bagi seluruh bangsa.
Paulus juga menjelaskan pemahamannya tentang Kerajaan Anak Allah, layaknya seperti pembebas yang mampu mengatasi segala kuasa-kuasa kegelapan (satanic) yang dibinasakan, dikalahkan dan takhluk di bawah Kristus (bdk.Kol.1:13-14; 1Kor.15:23-28; 1 Kor.15:51-57). Penggambaran ini sama seperti karya penebusan Yesus Kristus yang akhirnya memulihkan hubungan manusia dan Allahnya yang telah rusak akibat dosa. Dari sini kita bisa melihat bahwa Allah sendiri yang dengan caraNya yang ajaib mengatur karya penyelamatan bagi umatNya agar tidak binasa, yakni lewat kematian anakNya, Yesus Kristus. Dalam Rom.1:3 dan Gal.4:4 terdapat kesamaan penggunaan kata “AnakNya”. Dalam Rom.1:3, Paulus memahami bahwa Anak Allah sudah ada sebelum segala sesuatu ada, dan Allah mengutusnya untuk mewujudkan keselamatan lewat Yesus Kristus sebagai bentuk perwujudan kasih Allah. Atas dasar pemahaman inilah Paulus kemudian menyatakan bahwa Injil yang ia beritakan merupakan Injil Allah, yang merujuk kepada dasar teologi Paulus bahwa Anak Allah lahir sebagai Mesias, mati demi menebus dosa manusia dan bangkit untuk menghakimi orang-orang percaya pada penghakiman akhir. Paulus memperlihatkan bahwa di dalam Firman Allah nyatalah kebenaranNya, sama seperti yang telah dituliskan dalam injil bahwa Kristus merupakan manifestasi pengharapan iman eskatologi karya penyelamatan Allah dan pemenuhan janjiNya dengan Israel dan seluruh ciptaanNya. Sehingga jelaslah Paulus mau menyampaikan bahwa Injil yang ia beritakan ini, merupakan kabar sukacita tentang kuasa Allah yang menyelamatkan bagi mereka yang beriman kepadaNya, baik itu mereka orang Yahudi ataupun Orang Yunani (Rom.1:16). Untuk itu jemaat di Roma di kuatkan lewat surat ini agar bertobat dari kuasa kegelapan (Rom.2:4-6), masuk dalam kerajaan Allah yang ditandai lewat pembaptisan serta lebih berpegang teguh pada iman kepada Kristus (melihat konteks jemaat yang mengalami tantangan) bdk. Rom.12:1-2. Di sini jelaslah tujuan misi Paulus adalah menuntun semua bangsa, supaya mereka taat kepada namaNya (Rom.1:5). Dengan memberitakan Injil Allah Paulus memperkenalkan konsep Kerajaan Anak Allah di tengah-tengah orang Kristen non-Yahudi, dengan penghayatan Allah sebagai pencipta yang patut diagungkan kekal selamanya.

II.    Rasul : Panginjilan Kepada Orang-orang non-Yahudi
Paulus menyebut dirinya sebagai pemberita tentang akhir zaman (Rom. 1:1-5, cf. Gal. 1:15-16). Secara umum, para komentator setuju bahwa Paulus dipahami panggilan kerasulannya, seperti panggilan Hamba Allah dalam yes. 49, serta dengan nabi Yeremia.  Seyoon Kim berusaha melengkapi anggapan di atas dengan meneliti surat-surat yang Paulus. Dalam penelitiannya itu, Paulus dihubungkan dengan panggilan Sang Hamba di dalam kitab proto, dan deutro-Yesaya, dimana keduanya memiliki beberapa keserupaan dalam menjelaskan tugas sang Hamba, yaitu menjadi penuntun bagi bangsa-bangsa asing, atau bangsa selain bangsa yahudi.
Di dalam Lagu Hamba Tuhan pada Deutro-yesaya 42, menggambarkan tentang pengurapan dan pengutusan sang Hamba Tuhan. Dalam terang teks ini, Kim menilai bahwa ucapan paulus sedikit banyak terpengaruh dg teks ini. Lagi, juga bukan hanya sekadar menggambarkan kedua hal itu saja, tetapi surat 2 korintus 2:21-2 memperlihatkan bahwa adanya dukungan dari Roh Kudus kepada Paulus. Hal ini menunjukkan bahwa paulus, sepertinya, menggunakan PL untuk mendukung statusnya sebagai rasul.
Panggilan paulus sebagai rasul juga berangkat dari penyataan Kristus kepadanya. Pernyataan tersebut mengilhami paulus untuk mengabarkan injil tentang keselamatan dan penebusan yang daripada Allah melalui tangan kanan-Nya, yesus kristus, untuk pemerintahan Allah nantinya. Oleh karena itu, seperti deutro-yesaya, paulus juga memberitakan hal-hal itu kepada seluruh bangsa, dalam hal ini bangsa asing.
Paulus menyadari bahwa penyataan Kristus (Damascus chrystophany) merupakan sebuah tanda dari kedatangan Mesias-keturunan Daud, datangnya pemerintahan Allah, pewahyuan kemuliaan Allah, pemujaannya kepada Sang Sesias itu, dan peristiwa pemulihan bangsa Israel.
Paulus menyadari bahwa mayoritas dari Israel telah dikeraskan terhadap ajaran dimana akan terjadi pembangunan kembali Israel saat terjadinya Parousia dari Tuhan Yesus. Sebagian kecil dari Yahudi yang telah percaya juga memusatkan diri pada gereja di Yerusalem, dan mengharapkan pembangunan kembali seluruh Israel. Dari hal tersebut, maka Paulus menjadi yakin bahwa pokok utama dari teks-teks tersebut telah dinyatakan : semua hal telah siap bagi kaum bukan Yahudi untuk datang ke Kerajaan Allah, dan menerima penyelamatan-Nya.
Jadi, Paulus memahami panggilan Allah pada Yesaya 52.6-10, dan penegasan dari yes. 42, 49, 61, seperti yes. 6, sebagai panggilannya menjadi rasul dengan tugas mengabarkan Injil. Berangkat dari hal itu, paulus berusaha melakukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai rasul sang pekabar Injil.

III. Pengabaran Injil : Perjalanan Paulus ke Yerusalem untuk Memberitakan Kabar Keselamatan kepada Bangsa Lain

 Paulus ketika dalam perjalanan mengkabarkan injilnya, memiliki keunikan didalam penyampaian firman Allah kepada umatnya. Keunikan ini dipandang sebagai ciri khas yang dimiliki Paulus dalam menyampaikan teologinya kepada para umat di Yerusalem. Pada saat ini Paulus berhadapan dengan sekelompok orang yang berasal dari luar Yahudi dan orang Yahudi sendiri. Permasalahannya adalah soal persembahan yang menurut Paulus merupakan sebuah persembahan yang ditujukan kepada Tuhan melalui umat Tuhan dan secara eksplisit Paulus menyampaikannya (Rom 15 : 22 -32; 1 kor 16 : 1-4 ). Ada banyak kontroversi dari apa yang disampaikan oleh Paulus ini, namun kembali lagi kepada pesan Paulus berdasar firman Allah bahwa setiap manusia haruslah menolong sesamanya manusia. Melalui persembahan yang disampaikan oleh umat, Paulus berkata bahwa ketika kamu mempersembahkan persembahan kepada sesamamu, sebenarnya kamu telah mempersembahkannya bagi kemuliaan nama Tuhan di dunia ini. Belajar dari Paulus, ketika Paulus menjalankan karya misi ini banyak tantangan yang harus ia hadapi. Namun, melalui kegigihannya dan semangatnya pada ahkirnya Paulus berhasil menyatukan antara orang-orang non-Yahudi dengan orang Yahudi itu sendiri (Rom 11:25). Kerajaan Allah kini telah diisi oleh banyak orang asing, orang asing yang menyadari bahwa dirinya ada karena Allah sang pemberi kehidupan terus berkarya melalui hidupnya.

Tuesday, 11 March 2014

Injil Matius dan Teologinya (Teks Mat.27:32-44)

Injil Matius tidak akan cukup untuk dimengerti apabila hanya dibandingkan dengan Markus ataupun sumber Q, namun agaknya dimengerti dalam dirinya sendiri, menurut strukturnya sendiri, serta menurut ciri-ciri khasnya sendiri. Perbandingan dengan sumber-sumbernya yang lain diharapkan memampukan kita untuk dapat melihat kekhususan Matius, sebab yang terpenting adalah arti dan maksud dar masing-masing injil.
Tidak dapat dipungkiri bahwa si penulis injil Matius ini sangat mengenal tradisi-tradisi keyahudian, yang kemudian menjadi salah satu bahannya dalam mengarang injil Matius. Penulis menggunakan teks-teks yang beredar dalam gereja purba untuk mengemukakan imannya lewat injil Matius. Struktur kisah-kisah yang sistematis diperlihatkan oleh si penulis – dari pengetahuannya tentang PL – untuk memperlihatkan gambaran bahwa si penulis melihat peristiwa-peristiwa hidup Yesus sebagai pelaksanaan penuh dari perjanjian Allah dengan Israel.



Yesus, Sang Mesias Raja orang Yahudi                        
Dalam teks Mat.27:32-44 tentang Yesus disalibkan, kelompok menemukan beberapa bagian yang dirasa mengantarkan kita pada bagian dari teologi si penulis. Dalam beberapa bagian narativ pada teks, terlihat jelas bahwa perhatian si penulis mengarah pada Yesus Kristus dan penekanannya pada Anak Allah (lih. ay.37,40,43). Dalam ayat 37 penulis menekankan kata “Inilah Yesus Raja orang Yahudi”. Seperti yang kita ketahui, dalam tradisi keyahudian Sang mesias dimengerti sebagai seorang tokoh suci rajani, dengan penyelamatan dan pemulihan Israel,[1] dan penulis sangat meyakini bahwa Yesus adalah tanda dari penggenapan janji Allah tentang Mesias[2]. Di dalam Markus kita tidak menemukan kata Yesus dalam kutipan ini. Bagian ini agaknya cukup jelas memperlihatkan bagaimana penulis sangat mempertahankan pandangannya bahwa Yesus merupakan mesias Raja orang Yahudi, yang dijanjikan seperti apa yang disebutkan dalam PL. selain itu cemoohan oleh para imam, penjahat, dan para serdadu oleh penulis Matius dibuat dalam bahasa Perjanjian Lama, versi Ibrani sedangkan kutipan penulis Markus menggunakan bahasa Aram.[3]
Matius 27:37
Markus 15:26
Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia harus dihukum: “Inilah Yesus Raja orang Yahudi.”
Dan alasan mengapa Ia dihukum disebut pada tulisan yang terpasang di situ: “Raja orang Yahudi.”

Yesus, Anak Allah
Berikutnya teologi penulis tentang Anak Allah. Dalam ayat 40 dan 43 penulis menyebut kata Anak Allah (ditujukan kepada Yesus). Nama “Anak Allah” mempunyai arti yang khusus dalam injil Matius. Dalam kisah perolok-olokan Yesus di kayu salib (Mat.27:40,43) serupa dengan Mrk.15:39; tetapi penulis Matius menegaskan bahwa kepala pasukan dan kawan-kawannya “menjad sangat takut” dan ia tidak berani lagi berkata, “Orang ini” (Mrk. 15:39), tetapi “Ia ini adalah Anak Allah” (Mat.27:54).[4] Bagi Matius nama “Anak Allah” bukan hanya gelar kehormatan, tetapi sungguh-sungguh mengungkapkan kesatuan dan kesamaan Yesus dengan Allah, sehingga Wafat Yesus adalah manifestasi jelas dari kuasa ilahi-Nya.[5]
Penulis Matius mau menegaskan bahwa keagungan Yesus sebagai Anak Allah tidak mulai dengan kebangkitanNya, namun sejak semula Yesus adalah Anak Allah, dan oleh karena itu Ia dapat berbicara menganai “BapaKu yang di surga” (7:21) pada akhir khotbah di bukit, yang kerap kali berbicara mengenai Bapa. (6:16;6:1;7:11). Mengikuti Yesus berarti mengambil bagian dalam hubungan pribadiNya dengan Bapa. Hal itu dikatakan dengan amat jelas oleh Yesus sebagai jawaban atas pengakuan Petrus, “Berbahagialah engkauSimon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan BapaKu yang di surga”. Kata “BapaKu” adalah satu bagian yang khas bagi penulis Matius (7:21;12:50;18:10).[6]
Sekali lagi jelaslah bahwa penulis Matius sangat ingin membuktikan kebenaran Perjanjian Lama lewat tulisan penyataan imannya. Ia melihat peristiwa hidup Yesus sebagai pelaksanaan penuh dari perjanjian Allah dengan Israel. Sekuat tenaga, penulis Matius memperlihatkan bahwa dalam diri Yesuslah pemenuhan harapan itu, yang terungkap dalam gelar “Mesias” atau gelar “Anak Allah”.




[1] Eckardt, A.Roy. Menggali ulang Yesus Sejarah:kristologi masa kini. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 1996,p. 30-32
[2] bdk. silsilah kelahiran Yesus sebagai keturunan Daud.
[3] Lembaga Biblika Indonesia. Tafsir Perjanjian Baru 1:Injil Matius. Yogyakarta. Kanisius,p. 171
[4] Menurut Groenen, pengakuan dari kepala pasukan itu terpaksa, karena diikuti oleh rasa takut pada gejala yang menyertai kematian Yesus (Mat 27:54).
[5] Jacobs, Tom SJ. Siapa Yesus menurut Perjanjian Baru. Yogyakarta. Kanisius. 1982,p. 104-107
[6] Ibid 

Thursday, 19 December 2013

MANUNGGALING KAWULA GUSTI Sebagai Pandangaan Hidup Yang Meng-universal

      I. PENDAHULUAN
Sebelum orang Jawa mengenal Allah dalam agama, mereka punya cara mengungkapkan religiusitasnya sendiri. Pusat yang paling dalam dari religiositas ini ialah adanya kepercayaan dan penyembahan terhadap roh-roh dan kekuatan gaib yang ada di sekitar kehidupannya, dan yang lazim disebut dengan animisme di satu pihak, dan kepercayaan serta penyembahan terhadap adanya daya-daya di sekitarnya, atau yang lazim disebut dengan sebutan dynamisme. Mereka meyakini bahwa keselamatan hidupnya bergantung pada kekuatan gaib dan kekuatan roh-roh di sekitarnya itu, dan karena itulah mereka kemudian menyikapinya dengan mengadakan berbagai ritual, seperti acara slametan, ziarah makam, doa-doa, sejaji dan sebagainya.[1] Bentuk-bentuk kegiatan seperti ini dianggap lebih praktis dalam pelaksanaannya. Kepercayaan seperti ini tentu saja mendorong manusia sedapat mungkin memanfaatkan daya-daya tersebut  bagi kehidupan sehari-hari dalam rangka menuju ke kehidupan yang diidamkan. Oleh karena itu benda-benda yang dipercayai memiliki kekuatan dan daya yang besar akan sangat dihormati, bahkan disembah. Oleh karena sifatnya praktis, dan tidak membutuhkan perenungan yang mendalam, maka kepercayaan seperti ini sangat mudah dijiwai dan dipraktekkan oleh masyarakat yang umumnya tidak memiliki tingkat intelektual yang tinggi.[2]

Kedua pandangan diatas ini meletakkan dasarnya pada konsep ke-esa-an segala sesuatu dalam adanya. Konsep ini merupakan salah satu jawaban atas keseluruhan realitas. Salah satu implikasinya, Tuhan yang berpribadi disangkal secara konsisten. Hal ini jelas bertentangan dengan theisme. Seperti yang telah disinggung diatas, monisme merupakan istilah yang diciptakan bagi setiap usaha untuk menafsirkan realitas berdasarkan satu prinsip saja dengan menghilangkan keragaman dan perbedaan. Kejamakan selalu dikembalikan kepada kesatuan (prinsip tunggal). Allah melebur dalam dunia. Sedangkan pantheisme merupakan ajaran yang menyamakan Allah dengan jagad raya. Tuhan dan dunia bukan merupakan dua hakikat yang terpisah. Ketunggalan berpangkal pada Tuhan dan dunia terlebur dalam Tuhan.[3]

Bisa dikatakan bahwa gejala monisme dan pantheisme bertolak pada pengalaman mistik yang hidup dalam masyarakat serta kondisi masyarakatnya itu sendiri. Terkadang masyarakat akan lebih mudah memahami yang ilahi lewat kondisi sosial dan ekonominya sehari-hari. Mereka cenderung akan menggabungkan pengalaman mistik disekitarnya untuk pemenuhan hasrat jiwa (kerinduan) pada kehidupan yang lebih baik. Bagian ini bisa kita umpamakan: “kemiskinan/kondisi ekonomi masyarakat (yang selalu bersimbiosis dengan kelaparan dan keterasingan dalam pergaulan) mengandung konotasi bagian dari pengalaman mistik, yaitu perjalanan persatuan dengan yang ilahi dan pemenuhan hasrat jiwa akan penghayatan langsung terhadap kebenaran sejati”.

II. ALLAH SEBAGAI TUJUAN AKHIR MANUSIA
Sama seperti pemahaman diatas mengenai mistik dan hal-hal gaib. Hanya saja pada bagian ini manusia sudah mulai melihat apa yang ia cari, bahwa tujuan akhir manusia pasti adalah Tuhannya. Mereka mulai beralih dari konsep monisme dan pantheisme untuk menemukan jawaban yang lebih logis dan valid tentang kehidupan ini. Agama tentu saja menjadi bagian penting. Masuknya agama-agama di tanah Jawa mulai memperkenalkan masyarakat kepada suatu kepercayaan tentang sang Ilahi sebagai awal dan akhir.

Dalam konsep Manunggaling kawula Gusti tentu saja pasti ada gambaran kepada siapa manusia itu bersatu. Manusia bersatu dengan Tuhannya. Sehingga pada akhirnya tujuan akhir manusia adalah kepada Tuhannya. Ini merupakan cita-cita manusia. Untuk itu manusia perlu mengenal Tuhannya secara lebih personal (manusia – Tuhannya). Para filsuf alam di zaman Yunani kuno melihat Tuhan lewat penyataannya dalam alam semesta ciptaannya. Aristoteles juga dalam etikanya mengemukakan bahwa tujuan tindakan baik manusia adalah keseimbangan batin dan kedalaman dimensi perasaannya – katentremaning ati – dan tujuan itu tercapai lewat sikap yang tidak berputar pada dirinya sendiri (sepi ing pamrih) serta lewat partisipasi dalam kehidupan komunitas (rame ing gawe). Seperti bagi Aristoteles, puncak segala kegiatan manusia adalah theoria, begitu pula bagi orang Jawa semadi dan laku tapalah yang menghasilkan manunggaling kawula Gusti.[4] Serta Plato yang juga mengemukakan bahwa hidup manusia akan semakin bernilai bila semakin ia seluruhnya terarah kepada nilai dasar, Sang Baik. Sang Baik itu oleh Plato kadang-kadang juga disebut Yang Ilahi. Karena itu, manusia menurut Plato akan mencapai puncak eksistensinya apabila ia terarah kepada Yang Illahi. Secara tidak langsung hal ini juga dapat kita mengerti dalam konsep manunggaling kawula Gusti dalam falsafah hidup Jawa.[5]

Frans Magnis Suseno menggambarkan kedekatan Allah dan manusia lewat mendidik suara hati, dan untuk mencapai kematangan itu, kita harus berusaha dalam dimensi kognitif dan afektif. Dalam dimensi kognitif kita harus berusaha agar suara hati  memberikan penilaian-penilaiannya berdasarkan pengertian yang tepat. Atau dengan kata lain, kita harus mendidik suara hati.  Terkadang perasaan moral (superego) dan anggapan-anggapan sangat mempengaruhi suara hati kita. Namun dengan mendidik suara hati kita berusaha untuk membebaskan diri dari prasangka-prasangka itu, agar kita dapat mengambil jarak terhadapnya dan menilainya dengan kritis. Mendidik suara hati sama dengan terus-menerus bersikap terbuka, mau belajar, mau mengerti seluk beluk masalah-masalah yang kita hadapi, mau memahami pertimbangan-pertimbangan etis yang tepat dan seperlunya membaharui pandangan-pandangan kita. Usaha untuk mendidik suara hati menuntut keterbukaan kita dan keinginan kita untuk belajar. Dua syarat ini memang tidak hanya penting bagi pendidikan suara hati saja, melainkan bagi perkembangan kepribadian kita pada umumnya. Kita harus terbuka dalam arti bahwa  kita tak pernah seakan-akan sudah jadi, pasti, tak terubahkan, mati secara rohani dan intelektual.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana membedakan suara hati dan suara Tuhan? Pertama, karena suara hati dapat keliru, sedangkan Allah tidak dapat keliru, maka sudah jelaslah bahwa suara hati tidak begitu saja boleh disamakan dengan suara Allah. Suara hati dengan amat jelas mencerminkan segala pengertian dan prasangka kita sendiri, sehingga jelas merupakan suara hati kita sendiri. Tetapi dalam pertanyaan itu termuat sesuatu yang betul. Dalam suara hati memang ada unsur yang tidak dapat diterangkan dari realitas kita manusia saja, yaitu kemutlakannya. Suara hati memuat kesadaran bahwa apa yang disadarinya sebagai kewajiban mutlak harus kita lakukan. Dari mana unsur mutlak dalam kesadaran kita? Yang mutlak hanya satu, Allah. Jadi kemutlakan suara hati menunjuk pada Allah.[6]

Kita dapat membayangkannya sebagai berikut. Suara hati memang merupakan kesadaran kita. Dengan segala keanehan dan keterbatasan kita masing-masing. Dan oleh karena itu, suara hati tidak mutlak benar. Namun karena penilaian kita sendiri yang menganggap bahwa kita mutlak terikat olehnya. Karena penilaian bahwa kita seakan-akan dihadapkan di depan takhta Allah. Seakan-akan Allah sebagai saksi. Sehingga meskipun penilaian kita keliru, namun jelas jujur dan sungguh-sungguh. Karena kita melakukannya dalam kesadaran bahwa Allah menyaksikannya.
Kedekatan Allah dengan umatnya dapat digamabarkan dengan berbagai macam ilustrasi dan bentuk. Yang jelas adalah pada dasarnya apa yang dibutuhkan manusia selama hidupnya adalah bertopang pada sesuatu yang ia anggap ilahi, yakni Allah sendiri. Walaupun dengan berbagai bentuk kepercayaan dan keyakinan tentang Allah itu sendiri. Dalam ajaran Kekristenan kita tentu saja diajarkan bahwa yang menjadi tujuan akhir manusia adalah kembali kepada penciptanya, Allahnya. Disanalah manusia mendapatkan kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan yang dicapai setelah kehidupan ini (bersama dengan Tuhan), untuk itu dalam ajaran Kekristenan manusia diajarkan untuk tidak hanya berfokus pada apa yang ada di dunia tetapi juga hidup sedemikian rupa sehingga sesudah hidup ini ia betul-betul bahagia. Jadi, hidup ini menjadi suatu perjalanan ke tujuan manusia yang sebenarnya, yakni kepada Tuhannya. Konsep inilah yang nantinya mengantarkan kita pada pengertian tentang Manunggaling kawula Gusti dalam pandangan hidup orang Jawa.

      III. MANUNGGALING KAWULA GUSTI
Mangunggaling Kawula Gusti merupakan salah satu pandangan hidup orang jawa yang sangat terkenal. Beberapa percaya konsep ini merupakan bagian yang paling sulit untuk dicapai manusia; dan memang benar. Bagian ini merupakan bagian dimana seseorang mencapai kesempurnaan dalam hidupnya. Kisah Dewaruci tetang perjalanan Bima untuk mencari Air kehidup-an merupakan salah satu contoh bagaimana manusia dapat bersatu dengan Tuhannya. Dari perkataan-perkataan Dewaruci kepada Bima itu menjadi jelas, bahwa konsep tentang air kehidupan itu sendiri berkaitan erat dengan menemukan jalan yang benar menuju kepada Allah. Dalam arti yang demikian, maka air kehidupan itu berhubungan erat dengan arti kehidupan yang sebenarnya. Dengan kata lain, mencari dan menemukan hidup yang sebenarnya, sama halnya dengan mencari keadaan hidup di dalam persekutuan yang benar dengan Sang Khalik.

Pencarian akan Sang Khalik itu tentu saja tidak mudah, untuk itu manusia perlu pedoman. Prinsip-prinsip hidup dalam etika Jawa banyak memberi jawaban yang mampu mengantarkan manusia pada tataran kehidupan yang sempurna seperti yang dicari-cari dalam manunggaling kawula Gusti. Pertanyaannya adalah bagaimana menemukan Sang Khalik itu?? Dalam pembahasan sebelumnya telah kita bahas mengenai paham dan kepercayaan masyarakat Jawa kuno tentang animisme dan dinamisme. Namun hal ini tentu saja tidak cukup untuk memberikan penjelasan tentang Sang Khalik itu. Kebanyakan orang timur memahami dan mengenal Allah lewat kehidupan spiritualnya; entah itu lewat meditasi, lewat alam sekitarnya, dll. Untuk itu, hal penting yang perlu kita ketahui adalah bahwa manusia pada dasarnya merupakan makhluk spiritual. Di dalam diri manusia terdapat unsur Ilahi. Kita dilahirkan dengan pengetahuan tentang Tuhan. Tuhan adalah pengetahuan yang tercetak yang dapat terlupakan/disangkal, tetapi tidak dapat dihapuskan.[7] Sebelum manusia mencapai apa yang disebut dengan manunggaling kawula Gusti, manusia harus mengenal siapa dirinya. Mengenal diri di sini penting dalam arti membebaskan manusia dari keterasingan diri sendiri. Jiwa yang telah terbebas dari beban raga dan beban dunia adalah jiwa yang telah menemukan kebahagiaan dan kedamaian. Bahagia dan damai adalah ciri suasana surga. Jadi, manusia yang sudah dapat berperilaku seperti ini pada hakikatnya sudah menemukan surga. Sedangkan manusia yang masih terikat oleh kebutuhan balas budi bukanlah manusia penghuni surga karena masih dikungkung oleh orang lain dan menurutkan nafsu untuk menyenangkan orang lain. Hal ini agak bersebrangan dengan etika jawa yang menyatakan bahwa tekad dan sikap balas budi sebagaimana sikap Raden karena membela Kurawa melawan Pandawa serta sikap ragu-ragu menjalani takdir termasuk sikap terpuji dalam etika jawa.[8]

Manusia untuk dapat bersatu dengan Allahnya dan mencapai titik kebahagiaan sejati adalah dengan menghadirkan Tuhan dalam jiwanya. Sepi ing pamrih merupakan salah satu cara menuju manunggaling kawula Gusti. Dengan berusaha untuk semakin membebaskan diri dari cengkraman kekuatan-kekuatan irrasional dari dalam diri kita. Penguasaan oleh kekuatan-kekuatan itu dalam bahasa jawa disebut pamrih. Manusia tidak dapat menjalani dirinya sendiri, dalam arti menguasai diri, kecuali jika ia menjadi sepi ing pamrih, bebas dari pamrih. Manusia yang bebas dari pamrih tidak lagi perlu gelisah dan prihatin tentang dirinya sendiri, ia semakin bebas dari nafsu ingin memiliki, ia mengontrol nafsu-nafsu dan emosi-emosinya. Karena ia sepi ing pamrih, ia dapat semakin rame ing gawe, artinya sanggup untuk memenuhi kewajiban dan tanggung jawab yang menantangnya.

Dalam tradisi kerohanian barat pun apa yang disebut Sepi ing pamrih juga dikenal dengan 3 upaya, yaitu :
1.      recta itentio” (maksud yang lurus), membuat kita sanggup untuk mengejar apa yang memang kita rencanakan tanpa dibelokkan ke kiri atau ke kanan.
2.      ordination affectuum” (pengaturan emosi-emosi), kita tidak membiarkan diri begitu saja digerakkan oleh nafsu-nafsu, emosis, perasaan-perasaan, kecondongan-kecondongan kita, melainkan semua dorongan itu dapat diatur sehingga mendukung dan tidak mengacaukan sikap tanggung jawab kita.
3.      purification cordis” (pemurnian hati), dengan tujuan agar kita menjadi manusia baik, tanpa kepalsuan sampai keakar-akar kepribadian. Bagaikan air dalam yang jernih sampai ke dasar. Segala apa yang jahat, miring, kotor, nafsu-nafsu seperti dendam, dan iri tidak dapat berkembang dalam kejernihan itu. Orang yang murni tidak dapat dikalahkan oleh sesuatu apapun, jadi ia menjadi kuat. Sekaligus daya penilaiannya menjadi jernih sehingga ia sanggup untuk melihat kewajiban dan tanggung jawabnya dengan lebih tepat daripada orang yang mata hatinya masih digelapkan oleh kepentingan dan nafsu.[9]

Usaha mencapai kesempurnaan hidup adalah ciri khas pada kehidupan manusia. Ia selalu menuju ke arah itu, sadar atau tidak sadar. Hal ini disebabkan getaran jiwa manusia dan getaran alam sama. Keduanya dikuasai oleh hukum alam yang sama, seperti yang kecil dan lemah selalu dikuasai oleh yang besar dan kuat. Hal ini dilambangkan seperti bersatunya jiwa manusia dan Allahnya.[10] Saya rasa untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan manusia memang benar-benar harus menemukan jati dirinya, kehidupannya yang paling dalam, yang bisa manusia temukan ketika ia dapat mengendalikan diri dari berbagai hawa nafsunya, mampu menetapkan mana yang baik dan mana yang buruk, mampu hidup “suci” dan tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai macam ketakutan dan kekhawatiran dunia. Dengan mengetahui kehidupan manusia yang paling dalam ini, maka ia dapat mengetahui apa yang harus ia perbuat dalam dunia ini dan apayang tidak. Demikianlah maka keseluruhan hidup masyarakat Jawa selanjutnya akan diatur dan diarahkan oleh kehidupan batinnya, yang pada hakekatnya bersifat Ilahi. Pada titik inilah manusia dapat dikatakan bahwa ia telah mencapai tataran hidup manunggaling kawula Gusti. Inilah kesempurnaan hidup itu, yang sering dilukiskan dengan lukisan curiga manjing warangka; yang menggambarkan kesatuan antara Tuhan, manusia dan alam semesta.

Seno Sastroamidjojo mengemukakan bahwa manusia dalam usahanya mencapai kesempurnaan hidup baiklah dimulai dengan memperbaiki cara hidupnya di dunia. Hal ini perlu diutamakan. Jangan hanya mengincar kehidupan akhirat saja, sedangkan nilai kehidupan sehari-hari dilupakan begitu saja. Menurutnya, untuk mencapai kesempurnaan hidup manusia perlu menyingkirkan nafsu jahat, sifat angkara murka, serta mampu mengendalikan keinginan dagingnya. Dengan begitu manusia tersebut dalam keadaan “Tata, Titi, Tentrem, Kartaraharja” (tertib, tenang/tentram, makmur aman).[11]

Kebutuhan utama yang harus terpenuhi dalam manunggaling kawula Gusti adalah kebutuhannya terhadap Sang khalik. Dalam setiap agama pasti juga menekankan hal yang sama. Manunggaling kawula Gusti bila ditinjau dari pemahaman Kristen tentu saja lebih mengarahkan kita pada penyerahan diri kepada Tuhan. Penyerah diri dalam Kristen bukan dalam arti pasif, namun aktif. Penyerahan diri maksudnya selain berserah manusia juga dituntut untuk tetap melakukan kewajibannya sebagai orang beriman. Diyakini bahwa kemuliaan, kewibawaan, ketentraman, kebahagiaan, dan keselamatan lahir bathin hanya dapat dicapai dengan menjaga hubungan yang selaras antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam semesta. Tugas mulia manusia dalam kehidupan ini adalah membuat ketenangan diri dan menjaga keserasian alam semesta. Seperti dalam kisah Dewaruci, bila manusia telah mencapai tataran hidup ini, maka ia di sebutkan telah menemukan air kehidupan itu sendiri.[12]

      IV. REFLEKSI
Menurut saya pandangan ini juga pasti sangat di cita-citakan bukan hanya oleh orang Jawa, tapi semua orang; saat dimana ketika manusia dapat menyatu dengan Allahnya, ketika hidupnya mengalami kebahagiaan yang sempurna bersama Allahnya.

Pandangan ini sangat menarik, dimana secara tidak langsung juga memperlihatkan kesamaan dengan ajaran filsafat yang menyatakan bahwa kebagaiaan merupakan tujuan akhir manusia. Bagian yang memperlihatkan kesamaan tersebut adalah jalan menuju tujuan akhir itu. Keduanya, baik ajaran filsafat mau pun falsafah Jawa tentang manunggaling kawula Gusti salah satunya ditempuh dengan ketenangan hati yang di dapatkan dari kemampuan manusia untuk mengendalikan keinginan-keinginan, serta hawa nafsu duniawi. Walaupun dengan bentuk penghayatan yang berbeda satu sama lain, keduanya memiliki visi yang sama yang mengantarkan manusia kepada hidup yang sempurna menurut pandangan masing-masing ajaran.

Pemahaman ini juga tentu saja berkembang secara global, sadar atau tidak setiap orang yang menghayati upayanya dalam mencari kesempurnaan hidup secara tidak langsung mengaplikasikan falsafah hidup orang Jawa ini.  Contoh yang bisa kita temukan ada dalam ajaran filsafat Plato dan Aristoteles, dimana keduanya menekankan keseimbangan batin dan hidup yang terarah pada Sang Baik (Yang Ilahi) sebagai bagian dari perwujudan hidup yang sempurna. 




[1] Franz Magnis Suseno, Etika Jawa. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama. 2001,p. 85-90
[2] Bahan ajar kuliah Pdt.Yusak Tridarmanto
[3] Zoetmulder, PJ. Manunggaling Kawula Gusti: Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 1995,p. 1-4
[4] Franz Magnis-Suseno. 13 Tokoh Etika Sejak Zaman Yunani Sampai Abad ke-19. Yogyakarta:Kanisius. 1997,p. 42
[5] Ibid,p. 24
[6] Franz Magnis-Suseno. Etika Dasar: masalah-masalah pokok filsafat moral. Yogyakarta:Kanisius. 1998,p. 76-78

[7] Karasu, T.Bryan. Berdamai dengan Hati. Jakarta: Prenada Media. 2003,p. 194
[8] Sujamto. Sabda Pandhita Ratu. Semarang: Dahara Prize. 2000,p. 45
[9] Franz Magnis-Suseno. Etika Dasar: masalah-masalah pokok filsafat moral. Yogyakarta:Kanisius. 1998,p. 80-81
[10] Sastroamidjojo, Seno. Gagasan tentang Hakekat Hidup dan Kehidupan Manusia. Jakarta: Bhratara. 1972,p. 49
[11] Sastroamidjojo, Seno. Gagasan tentang Hakekat Hidup dan Kehidupan Manusia. Jakarta: Bhratara. 1972,p. 52-53
[12] Bahan ajar kuliah Pdt.Yusak Tridarmanto

Tafsir Yesaya 51: 1 - 8 "Syair Penghiburan"

1Dengarkanlah Aku, hai kamu yang mengejar apa yang benar, hai kamu yang mencari TUHAN! Pandanglah gunung batu yang dari padanya kamu terpahat, dan kepada lobang penggalian batu yang dari padanya kamu tergali.
2Pandanglah Abraham, bapa leluhurmu, dan Sara yang melahirkan kamu; ketika Abraham seorang diri, Aku memanggil dia, lalu Aku memberkati dan memperbanyak dia.
3Sebab TUHAN menghibur Sion, menghibur segala reruntuhannya; Ia membuat padang gurunnya seperti taman Eden dan padang belantaranya seperti taman TUHAN. Di situ terdapat kegirangan dan sukacita, nyanyian syukur dan lagu yang nyaring.
Yesaya 51:1 – 8 memuat 3 bait syair pendek (ay. 1-3, 4-6, dan 7-8). Ayat pertama dibuka dengan kata yang menunjukkan perintah, dengarkanlah Aku. Westermann mengemukakan bahwa kata perintah, dengarkanlah Aku dalam ayat 1 sama dengan ayat 7 (Ibr: שִׁמְע֥וּ , Syim’u) dimana keduanya merujuk kepada ajakan untuk mendengar berita yang akan disampaikan oleh Deutro-Yesaya. Kata apa yang benar (TB LAI) Ibr: sedeq (adil, benar) dalam ayat 1 menurut Westerman diartikan sebagai pembebasan, deliverance. Hal ini dihubungkan dengan apa yang tertulis dalam pasal 50:10, sehingga ada perbedaan antara mereka yang telah mengenal Allah dan “memiliki torah dalam hatinya” (ay.7) dengan mereka yang mengejar keselamatan dan mencari TUHAN (mereka yang mencari TUHAN ini menurut EGS bisa dibandingkan dengan tradisi ibadah Israel yang terdapat dalam Mazmur, dimana Israel dicari dan mencari TUHAN); sebab menurut Westermann kata dengarkanlah Aku dalam Ayat 1 dialamatkan kepada “orang-orang yang takut akan TUHAN” dimana kata takut sendiri merujuk pada ketaatan umat pada nubuat Hamba Allah (yang dalam perkembangannya kemudian digunakan juga oleh kaum proselit), yang dijelaskan dalam pasal 50:10a. Jadi kata mencari TUHAN dalam ayat 1 kemungkinan besar ditujukan kepada mereka yang “berjalan dalam kegelapan” karena mereka tidak tahu akan cahaya keselamatan. Melihat kemungkinan ini, maka tidak bisa disamakan dengan mereka yang dimaksud dalam ayat 7.[1]
Banyaknya terjemahan kata yang bisa menggambarkan kata sedeq membuat teks ini memiliki berbagai macam interpretasi; entah itu mencari pembebasan, keselamatan atau keadilan, kebenaran. North sendiri menerangkan bahwa “kebenaran” yang dikejar manusia itu adalah kebenaran di dalam TUHAN. Dialah kebenaran sekaligus Juruslamat.[2] Apa yang dikemukakan North kurang lebih sama dengan apa yang disampaikan oleh Marie-Claire Barth, bahwa mereka itu mengejar “sedeq”, keadilan/kebenaran yang TUHAN kerjakan, yakni keselamatan. Whybray sendiri mengemukakan bahwa kata sedeq disini lebih cocok diartikan sebagai righteousness dari pada deliverance atau salvation. Ini dibuktikan dengan penggunaan kata kerja pursue (mengejar) yang disejajarkan dengan kata seek the LORD yang mengantarkan kita pada sense of desiring to know and do the righteous will of God (menunjukkan keinginan/hasrat untuk tahu dan melakukan kebenaran seturut dengan kehendak Allah).[3] Bila dihubungkan dengan pasal 50:10, maka janji yang dibuat disana juga ditujukan kepada mereka yang mengejar keselamatan dan mencari TUHAN.
Kata mereka yang mengejar kebenaran dan mencari TUHAN diatas, mengajak kita untuk melihat metafora batu (makkebet) dan tambang (bôr)/lobang penggalian yang disampaikan oleh Deutro-Yesaya dengan hubungannya sebagai keturunan Abraham dan Sara di ayat 2 (metafora Abraham sebagai batu dan Sara sebagai tambang) yang pembuktian bahwa TUHAN tetap menyertai mereka. Menurut Whybray, hal ini berdasarkan janji Allah kepada Abraham bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang hebat, dan inilah pemenuhan janji Allah di masa lalu itu “I blessed him and made him many”. Adanya penekanan pada janji TUHAN yang disampaikan oleh Deutro-Yesaya ini menunjukkan bahwa janji TUHAN tidak hanya berhenti pada Abraham saja, tetapi juga bagi keturunannya, umat Israel.[4] Kira-kira begitu juga dengan apa yang disampaikan oleh Childs bahwa penggambaran Abraham sebagai batu dan Sara sebagai tambang melukisakan keselamatan yang dijanjikan. Penggambaran Abraham seperti batu yang merupakan rumah pertama yang dibangun dan Sara seperti tambang dimana dari sanalah umat berasal menunjukkan bahwa sekalipun umat Israel “mandul” Allah tetap memberikan kehidupan, sama seperti kuasa Allah dalam hidup Abraham dan Sara.[5] Serta Westemann, bahwa metafora tersebut merupakan usaha yang dilakukan untuk menunjukkan bahwa Israel diharapkan mampu mendapat keturunan sama seperti yang dialami oleh Abraham dan Sara, sebagai bentuk tindakan penciptaan kembali atas bangsanya. Mengingat peristiwa Keluaran (Exodus) merupakan peristiwa penting bagi umat Israel, dimana peristiwa itu dipandang sebagai peristiwa ketika mereka dipilih oleh TUHAN untuk menjadi hambaNya.[6] Sedikit perbedaan yang disampaikan oleh North, menurutnya kata Ibr: בּ֖וֹר seharusnya diterjemahkan cistern (lubang tangki air di bawah tanah) dan bukan quarry (tambang penggalian). Walaupun hal ini tidak memberi pengaruh penting terhadap terjemahan kalimatnya, karena keduanya sama-sama memiliki arti yang merujuk kepada lubang galian di bawah tanah.[7]
Ayat 3 berisi tentang janji TUHAN atas penghiburan kepada Sion. Di sini bukan hanya manusianya saja yang diperbaharui, tetapi juga reruntuhan kotanya. Nubuat ini menunjukkan kemahakuasaan TUHAN yang membangun kembali Sion yang runtuh. Allah akan menolong mereka keluar dari pembuangan di Babilonia, serta membuat mereka sebagai bangsa yang makmur di Palestina, sama seperti gambaran TUHAN yang mengubah padang gurun menjadi Taman Eden, dan padang belantara menjadi taman TUHAN. Bukan hanya jalan menuju ke Yerusalem saja yang menjadi subur tetapi juga kotanya. Gambaran perubahan yang disampaikan oleh Deutro-Yesaya ini sangat luar biasa, melihat kondisi lahan di Timur Tengah yang memang hanya memiliki sedikit daerah subur. Di sini Deutro-Yesaya mau menunjukkan bahwa sekalipun daerah yang tidak mungkin ditumbuhi tanaman subur atau bahkan gersang akan diubah menjadi daerah subur. Penggambaran ini sama seperti sebagaimana dulu Abraham dijanjikan tanah sebagai tanda berkat, begitu juga Israel (yang juga disebut Sion) dianugrahi taman Eden, taman TUHAN (membawa mereka kembali kepada masa kejayaan, Golden Age) sebagai tempat kediaman yang sempurna yang menjadi tanda bahwa TUHAN tetap memberkati Israel.[8]
4Perhatikanlah suara-Ku, hai bangsa-bangsa, dan pasanglah telinga kepada-Ku, hai suku-suku bangsa! Sebab pengajaran akan keluar dari pada-Ku dan hukum-Ku sebagai terang untuk bangsa-bangsa.
5Dadalam sekejam mata keselamatan yang dari pada-Ku akan dekat, kelepasan yang Kuberikan  akan tiba, dan dengan tangan kekuasaan-Ku Aku akan memerintah bangsa-bangsa; kepada-Kulah pulau-pulau menanti-nanti, perbuatan tangan-Ku mereka harapkan.
6Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah ke bumi di bawah; sebab langit lenyap seperti asap, bumi memburuk seperti pakaian yang sudah using dan penduduknya akan mati seperti

nyamuk; tetapi kelepasan yang Kuberikan akan tetap untuk selama-lamanya, dan keselamatan yang dari pada-Ku tidak akan berakhir.
Pada bait kedua syair ini, yakni ayat 4 – 6 dialamatkan kepada orang-orang. Mereka dipanggil untuk mendengar dan memperhatikan apa yang disampaikan oleh Hamba TUHAN tentang nubuat yang menyatakan bahwa pembebasan yang dijanjikan itu sudah dekat (ayat 4-5) dan tidak ada yang dapat melawan (ayat 6). Kata my people (‘ammȋm) dan my nation (le’ûmmȋm) dalam ayat 4 merupakan kata khusus yang merujuk kepada Israel. Hal ini dilihat dari pesan yang ada, yakni hukum Allah yang akan menjadi terang untuk bangsa-bangsa. Ayat 5 memperlihatkan keselamatan yang dijanjikan itu. Childs mengemukakan bahwa efek dari janji dalam ayat ini memberi kesan bahwa Israel semakin  dipisahkan dari bangsa-bangsa (bdk.pasal 42:6; לְא֥וֹר גּוֹיִֽם; le’or ggoyim = terang untuk bangsa-bangsa), sebab hukum Allah yang ada menjadi terang bagi bangsa-bangsa sehingga dalam hal ini umat (yang diselamatkan ini) patut mengingat kembali sifat Allah yang menyelamatkan Israel. Pandangan ini meluas, dari yang hanya umat Israel saja menjadi lebih universal bagi orang-orang yang beriman kepada Allah.[9]
Gambaran bumi yang rusak dan semakin memburuk dalam ayat 6, menggambarkan apa yang diciptakan oleh Sang Pencipta di dunia itu tidak abadi dan hanya sementara; dapat lenyap, hilang dan mati. Kata asap dan pakaian yang usang merupakan metafora biasa yang sering digunakan untuk menggambarkan hal-hal buruk (bdk pasal 50:9), begitu juga dengan metafor nyamuk (bdk.Keluaran 8:16). Untuk itu, jelaslah bahwa hanya keselamatan dari TUHAN saja yang dapat menyelamatkan manusia. Keselamatan dari TUHAN-lah yang abadi selamanya. Di sini kita bisa melihat pandangan apokaliptik yang kontras antara akhir zaman (kiamat) dan keselamatan dari Allah yang akan berlanjut untuk selamanya.[10] Dapat saya simpulkan bahwa keempat penafsir yang kita bahas memiliki pandangan yang sama terhadap tafsiran pada bagian ini. Keempatnya menekankan keselamatan yang hanya dapat ditemukan di dalam TUHAN (bdk. pasal 45,46; yang menyatakan bahwa dewa-dewa Babel tidak memberikan keselamatan seperti yang diberikan TUHAN).
7Dengarkanlah Aku, hai kamu yang mengetahui apa yang benar, hai bangsa yang menyimpan pengajaran-Ku dalam hatimu! Janganlah takut jika diaibkan oleh oleh manusia dan janganlah terkejut jika dinista oleh mereka.
8Sebab ngengat akan memakan mereka seperti memakan pakaian dan gegat akan memakan mereka seperti memakan kain bulu domba; tetapi keselamatan yang dari pada-Ku akan tetap untuk selama-lamanya dan kelepasan yang Kuberikan akan lanjut dari keturunan kepada keturunan.
Pada ayat 7 kata sedeq ditegaskan kembali, namun dengan makna yang lebih dalam dari ayat 1. Menurut North, penggunaan kata sedeq dalam ayat 7 ini lebih menekankan makna etisnya, khususnya “pengetahuan akan Allah” (da‘at’elohim), bukan dalam pengertian intelektual tetapi lebih kepada pengalaman nyata yang dialami “dengan sepenuh hati dan jiwa”. Tahu tentang kebenaran disini diartikan sebagai tahu bagaimana bertindak dengan benar, sesuai dengan kebenaran Allah (bagian ini dikhususkan kepada orang Israel, sebagai umat yang “dianggap” merupakan orang-orang yang tahu apa yang benar itu).[11] Penggambaran syair-syair yang terdapat  pada 2 ayat ini merupakan campuran dari syair-syair yang sering digunakan dalam metafor-metafor puisi dalam PL; beberapa diantaranya biasanya memiliki kata yang berbeda namun dengan arti yang sama. Contohnya kata “in whose heart is my law” dapat juga kita temukan dalam Yeremia 31:33 (bdk.pasal 42:4,6), atau dua kata “will eat them like wool” yang memiliki arti yang sama dengan “eat them up”.
Pada kedua ayat ini Deutro-Yesaya sekali lagi menegaskan bahwa TUHAN menyertai kehidupan umatNya. Hal ini terlihat dari nubuat Deutro-Yesaya, bahwa mereka yang menyimpan pengajaran TUHAN di dalam hatinya akan mendapatkan keselamatan dan pembebasan yang abadi untuk selamanya. Childs menambahkan bahwa hal-hal yang tidak ilahi pasti akan hilang, tetpi keselamatan dari TUHAN kekal. Untuk itu umat diharapkan tidak takut kepada cemooh/diaibkan/dinista orang lain, sebab mereka adalah orang yang selalu menyimpan pengajaran dalam hatinya yang selalu mendapat keselamatan dari TUHAN.[12]


[1] lih. Westermann, Clauss. Deutro-Isaiah. London: SCM Press Ltd. 1969,p. 234
[2] lih. North, Christopher. The Second Isaiah. Oxford, Clarendon Press. 1964,p. 208
[3] lih. Whybray, R.M. Isaiah 40-66. London: Marshal, Morgan & Scott Publication. 1975,p. 154-155
[4] Ibid,p. 155
[5] Childs, Brevard. Isaiah. Louisville: Westminster John Knox Press. 2001,p. 402
[6] Westermann,p. 230
[7] North,p. 206
[8] bdk. Whybray p. 155, Childs p.402, Claire Barth p. 284
[9] Childs p.402
[10] North p.210, Childs p. 402, Westermann p.235-236, Whybray p. 156-157
[11] North, p. 210
[12] Westermann p. 236-237, Childs p. 402